— Perkembangan pesat industri percetakan, khususnya digital printing, menjadi motor penggerak utama tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Berbagai sektor mulai dari kemasan hingga produk fesyen merasakan dampak positif dari inovasi teknologi cetak ini.

Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menjelaskan bahwa pameran All Print 2026 di Jakarta menjadi bukti nyata perluasan kebutuhan industri percetakan. “Perkembangan industri percetakan saat ini tidak lagi terbatas pada teknologi cetak konvensional, tetapi telah berkembang ke berbagai kebutuhan industri yang saling berkaitan, termasuk juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan oleh industri. Perkembangan ini tentu menciptakan kebutuhan baru dan peluang bisnis baru bagi para pelaku industri,” ujar Daud.

Ia menambahkan bahwa industri kreatif, terutama sektor grafika, sangat terbantu oleh dukungan teknologi. “Peluang di industri kreatif ini sangat besar. Investasi yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari puluhan juta rupiah untuk usaha skala kecil hingga investasi bernilai miliaran rupiah untuk industri berskala besar,” ungkapnya.

Daud menyoroti kecepatan inovasi teknologi cetak digital. “Setiap tahun kita menyaksikan peningkatan dari sisi kualitas hasil cetak, kecepatan produksi, presisi, efisiensi biaya, hingga penggunaan tinta yang semakin ramah lingkungan. Jika dahulu ruang produksi cetak identik dengan bau tinta yang menyengat, kini proses produksi menjadi jauh lebih nyaman dan bersih,” katanya.

Keyakinan akan terus munculnya inovasi baru diungkapkan Daud. “Kami percaya bahwa perkembangan teknologi grafika akan terus membuka peluang baru bagi industri kreatif Indonesia, menciptakan efisiensi, meningkatkan daya saing, sekaligus menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Senada dengan itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Ahmad Mughira Nurhani menegaskan pentingnya transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan. “Digitalisasi dan keberlanjutan lingkungan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang menentukan masa depan industri. Melalui All Print Indonesia 2026, PPGI berkomitmen memperkuat kesiapan pelaku usaha grafika, baik perusahaan besar maupun UMKM, untuk mengadopsi teknologi percetakan modern yang lebih efisien, hemat energi, dan berpresisi tinggi,” tutur Mughira.

Mughira memandang bahwa industri percetakan Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar di tengah perubahan perilaku konsumen, percepatan teknologi digital, dan tuntutan produksi yang efisien serta berkelanjutan. “Pertemuan berbagai sektor, mulai dari kemasan, label, penerbitan, promosi, hingga ekonomi kreatif, membuka ruang yang luas bagi industri grafika nasional untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas akses ke pasar domestik maupun global dan pameran All Print Indonesia bukan sekadar pameran mesin dan teknologi, melainkan wadah kolaborasi, pertukaran gagasan, serta penguatan jejaring industri,” terangnya.

Dukungan terhadap pameran ini juga datang dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Cecep Rukendi menekankan pentingnya pengembangan kekayaan intelektual. “Saat ini, kalau kita ingin mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar, kita tidak cukup hanya menjual komoditas atau jasa. Kita juga perlu mengembangkan intellectual property atau kekayaan intelektual. Dengan mengembangkan intellectual property, nilai tambah yang dihasilkan dapat menjadi jauh lebih besar,” jelas Cecep.

Ia menambahkan bahwa ekonomi kreatif kini menjadi penggerak perkembangan ekonomi dunia. “Kalau Bapak-Ibu sekalian mencari tahu siapa orang-orang terkaya di dunia saat ini, banyak di antara mereka yang membangun bisnis berbasis kreativitas, baik yang berbasis budaya maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kita juga dapat melihat bahwa sektor yang terkait dengan All Print Indonesia, khususnya industri penerbitan sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif, memiliki peran yang penting dan terus berkembang,” ujar Cecep.

Teknologi cetak kini merambah berbagai media, tidak hanya kertas. Produk seperti kartu kredit, telepon seluler, jam tangan, tekstil, hingga produk fesyen memanfaatkan digital printing. “Industri fesyen pun menjadi salah satu sektor yang berkembang pesat berkat kemampuan personalisasi desain yang semakin mudah dan terjangkau,” papar Daud.

Inovasi teknologi 3D printing juga akan ditampilkan, memungkinkan pengunjung melihat langsung penerapannya dalam menghasilkan produk kreatif dan fungsional. Meskipun demikian, Daud meyakini media cetak tetap relevan. “Saya baru kembali dari pameran industri kreatif dan fesyen di Italia, dan saya melihat bahwa majalah cetak masih banyak digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa media cetak tetap relevan, meskipun volumenya mungkin tidak sebesar sebelumnya,” ungkapnya.

Industri percetakan Indonesia pada 2026 diproyeksikan tumbuh stabil sekitar 3,39%, didorong oleh sektor kemasan (packaging) dan label yang melonjak hingga 20%, serta textile printing sekitar 15%. Tren utama adalah pergeseran dari percetakan massal menuju percetakan digital dan personal.

Menjawab perkembangan ini, Krista Exhibitions kembali menggelar ALLPrint Indonesia 2026 pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran internasional ini akan menghadirkan sekitar 400 peserta dari lebih dari 10 negara, termasuk 20 UMKM. Target pengunjung pameran ini adalah 60.000 orang.

ALLPrint Indonesia 2026 diselenggarakan bersamaan dengan pameran pendukung seperti Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia. Kolaborasi ini bertujuan memperluas cakupan ekosistem industri percetakan.

Pameran akan menampilkan teknologi pendukung proses produksi, mulai dari digital printing, packaging printing, teknologi karton box, graphic technology, hingga software dan solusi pendukung industri grafika. Selain itu, akan ada agenda edukasi dan forum industri yang membahas perkembangan teknologi terkini, termasuk seminar mengenai digital textile printing dan masa depan manufaktur karton.

Agenda lain meliputi Eduprint Talkshow tentang sertifikasi halal dan kemasan, serta Musyawarah Nasional XI Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI). Beragam kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan bagi pelaku industri mengenai adopsi teknologi, efisiensi produksi, kepatuhan regulasi, dan perkembangan industri grafika.