— Kepastian pasokan kedelai menjadi salah satu faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan industri tahu dan tempe di Indonesia, selain stabilitas harga bahan baku. Kontinuitas pasokan memungkinkan perajin untuk merencanakan produksi, mengelola kebutuhan modal, dan menjaga suplai produk kepada konsumen secara konsisten.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (AKINDO), Hidayatullah Suralaga, menjelaskan bahwa pergerakan harga kedelai dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga komoditas global, nilai tukar mata uang, biaya logistik, dan kondisi perdagangan internasional. Namun, ia menekankan bahwa kelangsungan industri tahu dan tempe tidak semata-mata ditentukan oleh fluktuasi harga.

“Dalam kondisi pasar yang dinamis, yang perlu dijaga bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan barang. Pengrajin membutuhkan kepastian bahwa kedelai tersedia ketika dibutuhkan, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dengan lebih baik,” kata Hidayatullah. Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan sangat penting mengingat produksi tahu dan tempe berlangsung setiap hari.

Menurut data AKINDO, stok kedelai impor nasional pada September 2026 diperkirakan berada di kisaran 475 ribu ton, yang dinilai masih mencukupi kebutuhan nasional. Kendati demikian, kelancaran distribusi tetap menjadi perhatian utama. Perbedaan harga yang diterima perajin antardaerah dapat terjadi akibat biaya transportasi, kondisi geografis, dan akses logistik yang bervariasi.

“Rantai pasok kedelai saling berkaitan. Yang perlu dijaga adalah kelancaran distribusi dan ketersediaan barang, sehingga perajin memiliki kepastian untuk terus berproduksi,” ujar Hidayatullah. Ia menambahkan bahwa perbedaan harga di tingkat perajin seringkali disebabkan oleh efisiensi rantai pasok hingga ke sentra produksi.

Harga Berbeda Antardaerah

Sejumlah perajin di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sulawesi, melaporkan harga kedelai yang mereka beli berkisar antara Rp11.100 hingga Rp11.600 per kilogram. Perajin tempe asal Aceh, Zikri, mengonfirmasi harga serupa, yaitu sekitar Rp11.500 per kilogram. Namun, ia lebih menyoroti pentingnya kepastian pasokan.

“Selain melihat perkembangan harga, yang lebih penting bagi kami adalah kedelai tersedia dan kami bisa mendapatkan barang secara konsisten. Kalau pasokannya lancar, kami bisa lebih mudah menghitung produksi dan kebutuhan modal,” ungkap Zikri. Ia menjelaskan bahwa perajin dapat melakukan penyesuaian jika harga bahan baku naik, misalnya dengan mengubah ukuran produk. Namun, keterbatasan pasokan jauh lebih sulit diatasi dan dapat langsung mengganggu kelancaran produksi.

“Yang ditakutkan adalah persediaan kacang kedelai. Kalau harga naik, sementara bisa disiasati dengan menyesuaikan ukuran. Tetapi kalau kenaikannya terus berlanjut, harga jual juga bisa ikut naik,” imbuhnya. Pendapat serupa disampaikan perajin tahu dan tempe asal Banjarmasin, Irman, yang menekankan bahwa ketersediaan stok menjadi pertimbangan penting. Tanpa pasokan yang memadai, kenaikan harga menjadi persoalan tambahan yang memberatkan produsen.

“Stok penting. Kalau harga naik tapi stok tidak ada, sama juga,” pungkas Irman. Ia juga mencermati perkembangan global yang berpotensi memengaruhi harga energi, biaya distribusi, dan permintaan komoditas, yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan baku di tingkat pengrajin.

Rantai Pasok Jadi Faktor Strategis

Bagi industri tahu dan tempe, stabilitas pasokan kedelai memiliki kaitan langsung dengan kemampuan perajin dalam menentukan volume produksi, mengelola modal kerja, serta menjaga kontinuitas penjualan. Oleh karena itu, tantangan industri tidak hanya terletak pada harga kedelai di tingkat nasional, tetapi juga pada efisiensi distribusi hingga ke sentra-sentra produksi.

Perbedaan biaya logistik menjadi penyebab harga di suatu wilayah tidak selalu mencerminkan kondisi pasar secara nasional. Daerah dengan akses distribusi yang lebih sulit berpotensi menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi. Dalam kondisi tersebut, stabilitas industri tahu dan tempe sangat bergantung pada tiga faktor utama: harga bahan baku yang terjangkau, ketersediaan pasokan yang konsisten, dan jaringan distribusi yang efisien.

Kepastian ketiga faktor tersebut menjadi dasar bagi perajin untuk mempertahankan produksi sekaligus meredam risiko kenaikan biaya yang pada akhirnya dapat diteruskan ke harga jual tahu dan tempe kepada konsumen.