DailyFX.ID — JAKARTA – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kredit konsumsi perbankan pada umumnya. Fenomena ini mengindikasikan pergeseran pola pembiayaan masyarakat, di mana paylater berpotensi terus meningkat sebagai penopang konsumsi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026 mencatat baki debet kredit BNPL perbankan tumbuh 33,54% secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun angka ini sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, pertumbuhan tersebut tetap agresif jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit konsumsi secara keseluruhan yang hanya mencapai 5,75% (yoy).
Secara volume rekening, paylater terus mengalami peningkatan. Per Juni 2026 tercatat ada 32,77 juta rekening, naik dari bulan sebelumnya 32,54 juta rekening. Rata-rata baki debet per rekening adalah sekitar Rp940 ribu. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh bank dalam kelompok KBMI 1 dan KBMI 3 yang mampu mencatat pertumbuhan double digit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, pertumbuhan kredit paylater tertinggi terdapat pada bank KBMI 3 sebesar 134,01% (yoy), meskipun dengan porsi yang masih terbatas sebesar 12% dari total kredit paylater. “Kemudian diikuti oleh KBMI 1 yang juga tumbuh tinggi sebesar 70,10% (yoy), dengan porsi kredit paylater sebesar 23%,” ujarnya.
Risiko kredit dari paylater perbankan pada Juni 2026 masih terjaga dengan rasio NPL sebesar 2,36%, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 2,50%.
OJK melihat pertumbuhan paylater tidak hanya berkaitan dengan perkembangan produk perbankan, tetapi juga mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Dian mengatakan, khususnya pada generasi muda, cicilan jangka pendek berbunga mulai menjadi bagian dari pola konsumsi.
“Dari perspektif ekonomi makro meningkatnya penggunaan kredit paylater dapat mencerminkan upaya rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi,” kata Dian.
Laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri menunjukkan, indeks pinjaman atau Mandiri Spending Index pada Juni 2026, yang mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, dan paylater perusahaan pembiayaan non-bank, mencapai 157,7 atau tumbuh 24,6% (yoy).
“Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat,” tulis laporan tersebut. Laporan ini mengindikasikan bahwa meski tingkat tabungan melemah, masyarakat menggunakan pembiayaan seperti paylater sebagai likuiditas jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.
Dian menambahkan, OJK mendukung perbankan menyediakan akses pembiayaan yang aman dan mudah melalui pengembangan produk dan layanan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kapabilitas masing-masing bank. “OJK mendukung upaya perbankan untuk menyediakan akses pembiayaan yang aman dan mudah bagi masyarakat melalui berbagai pengembangan produk dan layanan yang sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas masing-masing bank,” ujarnya.
Prospek paylater masih terbuka seiring berkembangnya ekosistem ekonomi digital, termasuk kemudahan akses pembiayaan yang ditawarkan melalui platform fintech dan e-commerce. Paylater memungkinkan masyarakat memperoleh pembiayaan konsumtif jangka pendek melalui proses penilaian kredit berbasis data.
Direktur IT PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Tan Jacky Chen mengatakan, perseroan tengah menyelesaikan pengembangan sistem dan proses perizinan sebelum meluncurkan produk BNPL yang ditargetkan rilis tahun ini. “Nanti setiap profil dan segmen akan berbeda, use case-nya juga akan kami sesuaikan dengan profil nasabah yang kami anggap eligible menerima fasilitas paylater maupun yang mengajukan,” kata dia.
Sementara itu, pembiayaan BNPL oleh industri multifinance tumbuh 57,02% (yoy) per Juni 2026, lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman melaporkan rasio NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan membaik menjadi 3,09% dari bulan sebelumnya 3,44%.
Agusman menekankan pentingnya perusahaan pembiayaan untuk terus memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian. “Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Perusahaan Pembiayaan perlu terus memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian, antara lain melalui penguatan penilaian kemampuan bayar debitur serta pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjutan,” tutur dia.
PT Akulaku Finance Indonesia sebelumnya menyepakati fasilitas pendanaan senilai Rp500 miliar dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk guna memperkuat kapasitas pembiayaan dan mendukung pertumbuhan layanan pembiayaan digital. Fasilitas ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja Akulaku Finance seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital, salah satunya paylater.
Bagi perusahaan multifinance, ekspansi BNPL juga membuka ruang diversifikasi bisnis di tengah industri pembiayaan yang menghadapi tantangan pertumbuhan dan kualitas aset. Namun, pergeseran tersebut memiliki risiko. Apabila pertumbuhan paylater tidak diikuti peningkatan pendapatan masyarakat, kewajiban cicilan yang menumpuk justru dapat menekan konsumsi pada periode berikutnya.
Ikuti DailyFX.ID
