DailyFX.ID — Serikat pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan menggelar aksi mogok kerja serentak pada Jumat (21/08/2026). Ini merupakan mogok pertama dalam satu dekade terakhir, terjadi setelah perundingan upah dengan manajemen menemui jalan buntu. Aksi ini tidak hanya menuntut kenaikan upah dan usia pensiun, tetapi juga perlindungan pekerjaan di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi dalam industri otomotif.
Diperkirakan sekitar 40.000 anggota serikat Hyundai Motor berpartisipasi dalam aksi mogok penuh selama satu hari tersebut. Sejumlah pekerja dari Hyundai, Kia Corp, serta perusahaan pemasok juga menggelar demonstrasi di depan kantor pusat Hyundai Motor di Seoul. Tuntutan utama serikat mencakup kenaikan usia pensiun dari 60 tahun saat ini dan peningkatan bonus menjadi 800% dari gaji pokok bulanan, naik dari sebelumnya 750%.
Selain itu, serikat pekerja meminta adanya jaminan bahwa adopsi AI dan otomatisasi tidak akan mengorbankan lapangan kerja. Pemimpin serikat Hyundai, Lee Jong-cheol, menyatakan bahwa para pekerja yang telah menopang perkembangan Hyundai dan Kia selama puluhan tahun kini menghadapi ketidakpastian mengenai status pekerjaan mereka di masa depan.
Aksi mogok penuh ini menyusul serangkaian penghentian kerja sebagian yang telah berlangsung sejak akhir Juli 2026. Menurut perkiraan kantor berita Yonhap, aksi-aksi tersebut telah mengganggu produksi sekitar 55.200 kendaraan, dengan kerugian nilai mencapai lebih dari 2,3 triliun won atau sekitar US$1,67 miliar.
AI Menjadi Sorotan Utama
Kekhawatiran terhadap dampak AI telah menjadi salah satu isu sentral dalam perundingan tenaga kerja. Hyundai, yang juga memiliki perusahaan robot humanoid Boston Dynamics, sebelumnya mengumumkan rencana untuk mulai menggunakan robot humanoid di pabriknya di Georgia, Amerika Serikat (AS), pada tahun 2028. Penggunaan ini direncanakan akan diperluas ke fasilitas produksi lainnya di masa mendatang.
Serikat pekerja menilai bahwa otomatisasi tidak hanya berpotensi memengaruhi pekerjaan di lini produksi, tetapi juga dapat berdampak pada posisi di bidang riset dan teknik. Kim Byung-chul, seorang pekerja Hyundai Motor sekaligus Wakil Presiden Korean Metal Workers’ Union, mengungkapkan bahwa serikat ingin memastikan perkembangan teknologi tidak mengurangi kesempatan kerja bagi generasi mendatang.
Aksi buruh ini menambah tantangan bagi Hyundai di tengah tekanan bisnis. Pada bulan Juli saja, perusahaan memperkirakan penjualan global tahun ini berpotensi tidak mencapai target karena meningkatnya persaingan dari produsen China di Eropa serta melemahnya penjualan di Korea Selatan.
Tuntutan kenaikan usia pensiun juga muncul di saat Korea Selatan menghadapi penuaan penduduk yang cepat. Presiden Lee Jae Myung sebelumnya telah berjanji untuk menaikkan batas usia pensiun secara bertahap.
Juru bicara serikat Hyundai Motor, Kim Jin-wook, menyatakan bahwa serikat masih terbuka untuk melanjutkan perundingan. Namun, aksi lanjutan akan dipertimbangkan jika manajemen tidak memberikan proposal yang dianggap lebih memadai. Sementara itu, Hyundai Motor menegaskan komitmennya untuk terus berupaya mencari solusi melalui dialog. Perusahaan juga mengingatkan bahwa aksi mogok dapat berdampak pada pelanggan, mitra usaha, dan operasional perusahaan, terutama di saat industri otomotif sedang menjalani transisi menuju teknologi mobilitas masa depan.
Ikuti DailyFX.ID
