DailyFX.ID — Keselamatan berkendara menjadi aspek krusial bagi pengemudi ojek online (ojol), terlebih bagi penyandang tunarungu yang setiap hari beraktivitas di jalan raya. Pemahaman mendalam mengenai safety riding dinilai esensial untuk membekali para pengemudi dalam menghadapi berbagai risiko pekerjaan sekaligus menjaga keberlanjutan mata pencaharian mereka.
Fokus pada keselamatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan Pelatihan Pengelolaan Keuangan, Safety Riding, dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Pengemudi Ojek Online Tunarungu. Acara ini diselenggarakan oleh Ruang Amal Indonesia berkolaborasi dengan IFG Life dan mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) RI.
Pelatihan yang berlangsung di Ruang Heritage, Gedung Kemenko PM, Jakarta, pada Senin (21/9) ini diikuti oleh 60 pengemudi ojol tunarungu dari wilayah Jabodetabek. Mereka merupakan anggota dari Komunitas Ojol Tunarungu Relawan Indonesia (KOTRI).
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PM, Dyah Tri Kumolosari, menekankan komitmen pemerintah untuk memastikan kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas, termasuk dalam hal keselamatan kerja dan perlindungan sosial. “Kami ingin memastikan, ketika teman-teman turun ke jalan itu aman dalam berkendara, dan mendapat akses jaminan sosial ketenagakerjaan,” ujar Dyah dalam keterangan rilisnya.
Dyah menambahkan bahwa penyandang disabilitas merupakan elemen vital dalam pembangunan yang inklusif. Oleh karena itu, dukungan terhadap pengemudi ojol tunarungu tidak hanya menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga perlindungan agar mereka dapat bekerja dengan aman. “Penyandang disabilitas adalah prioritas, bukan pelengkap. Pembangunan Indonesia adalah pembangunan yang inklusif, termasuk bagi teman-teman penyandang disabilitas. Tidak boleh ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan,” tegasnya.
CEO Ruang Amal Indonesia, Slamet Tuharie, menjelaskan bahwa pengemudi ojol merupakan salah satu kelompok pekerja yang rentan terhadap berbagai risiko di lapangan. Oleh sebab itu, edukasi safety riding dan literasi keuangan menjadi sangat penting untuk mendukung kelangsungan aktivitas mereka. “Kegiatan hari ini diikuti oleh 60 peserta dari Jabodetabek, dan di Jabodetabek sendiri jumlah pengemudi ojol tunarungu ada sekitar 1.300 orang. Kegiatan ini merupakan kali kedua dengan IFG Life,” ungkap Slamet.
Selain materi keselamatan berkendara, pelatihan ini juga membekali peserta dengan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan jaminan sosial ketenagakerjaan. Diharapkan, materi ini dapat membantu para pengemudi dalam mengelola pendapatan mereka dengan lebih baik, sekaligus memahami bentuk perlindungan yang tersedia selama menjalankan aktivitas pekerjaan.
Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya untuk membuka akses yang lebih luas bagi pengemudi ojol penyandang disabilitas. “Atas nama IFG Life, kami menyampaikan terima kasih atas kolaborasi dan partisipasinya. Acara ini penuh makna, membuka wawasan bagi pengemudi ojol terkait perencanaan keuangan dan juga pelatihan safety riding,” kata Gatot.
Gatot berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam aktivitas sehari-hari, khususnya dalam menjaga keselamatan saat berkendara dan mengelola keuangan secara lebih optimal. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenko PM, IFG Life, DPLK IFG Life, BPJS Ketenagakerjaan, Ruang Amal Indonesia, dan KOTRI, yang bertujuan memperkuat ekosistem kerja yang lebih inklusif bagi pengemudi ojol tunarungu.
Ikuti DailyFX.ID
