DailyFX.ID — Pemerintah pusat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah tengah mempercepat proses pendataan serta verifikasi kerusakan rumah akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Langkah ini krusial sebagai dasar penyaluran bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
Besaran bantuan yang akan disalurkan disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah dan kebutuhan para penyintas. Tujuannya adalah untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan efektif dalam pemulihan pascabencana.
Menurut Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, rumah yang dikategorikan rusak ringan akan menerima bantuan perbaikan senilai Rp 15 juta. Sementara itu, rumah dengan tingkat kerusakan sedang akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 30 juta.
“Adapun rumah yang mengalami kerusakan berat akan mendapatkan penanganan melalui pembangunan hunian tetap (huntap),” ungkap Berton dalam keterangan resminya pada Senin, 24 Agustus 2026. Bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, pemerintah juga menyediakan solusi sementara sebelum hunian tetap selesai dibangun.
Penyintas dapat memilih untuk memanfaatkan dana tunggu hunian (DTH) atau menempati hunian sementara (huntara). “Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian sebesar Rp 600 ribu per bulan untuk menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara atau menempati hunian sementara sampai pembangunan huntap dapat diselesaikan,” jelas Berton.
BNPB menekankan bahwa seluruh dukungan yang diberikan didasarkan pada hasil pendataan, verifikasi, dan validasi tingkat kerusakan rumah yang dilakukan secara kolaboratif dengan pemerintah daerah. “Proses ini penting untuk memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang berhak sekaligus mendukung percepatan pemulihan pascabencana secara tertib dan akuntabel,” imbuh dia.
Dalam perkembangan lain, sebanyak 84 kepala keluarga (KK) atau 237 jiwa penyintas gempa Flores yang sebelumnya mengungsi di GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, mulai kembali ke rumah masing-masing pada Senin sore. Data dari posko pengungsian per pukul 18.30 WITA menunjukkan bahwa kepulangan ini merupakan bagian dari proses pemulihan bertahap setelah kondisi rumah para penyintas dipastikan aman untuk ditinggali.
Suasana di GOR Samador pada Senin sore terlihat berbeda dari hari-hari awal pascagempa. Para penyintas terlihat sibuk mengemas barang pribadi, membersihkan area pengungsian, dan bersiap untuk kembali ke rumah mereka. “Sebelum meninggalkan lokasi pengungsian, para penyintas dipanggil satu per satu berdasarkan data kartu keluarga dan menerima bantuan kebutuhan pokok untuk mendukung mereka selama kembali menjalani aktivitas di rumah masing-masing,” kata Berton.
Proses kepulangan ini difasilitasi oleh BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Sikka, Dinas Sosial, TNI AL, Satpol PP, dan Basarnas. Berbagai armada disiapkan untuk mengantarkan para penyintas, barang pribadi, serta bantuan sembako ke kediaman mereka.
Kepulangan diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan berdasarkan hasil pemeriksaan struktur bangunannya dinyatakan masih aman untuk ditempati. Proses ini dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan serta hasil pendataan dan verifikasi kondisi bangunan.
Sejak gempa bumi M 7,7 Flores terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tercatat sebanyak 300 KK atau 1.290 jiwa mengungsi di GOR Samador. Setelah 84 KK atau 237 jiwa kembali ke rumah masing-masing, masih terdapat 216 KK atau 1.053 jiwa yang berada di lokasi pengungsian.
Ikuti DailyFX.ID
