DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran berada dalam kondisi “runtuh total” di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut antara kedua negara. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social.
“IRAN RUNTUH TOTAL!!! Presiden DJT (Donald J. Trump),” tulis Trump, tanpa memberikan perincian lebih lanjut. Klaim ini memperkuat pernyataan-pernyataan sebelumnya mengenai penurunan kondisi ekonomi dan militer Iran.
Pernyataan Trump didukung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang menyebut Amerika Serikat sedang melancarkan “economic D-Day” terhadap Iran. Langkah ini merupakan bagian dari strategi AS untuk melumpuhkan kapasitas militer dan program nuklir Iran.
“Presiden Donald Trump telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100% fasilitas manufaktur militernya, dan menghentikan program nuklirnya,” ujar Bessent melalui akun media sosial X.
Sebelumnya, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran belum siap untuk mencapai kesepakatan damai yang sesuai dengan persyaratan Amerika, meskipun tekanan ekonomi yang diterapkan semakin menjerat negara tersebut. “Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut saya mereka belum siap menyepakati syarat yang tepat,” kata Trump kepada awak media.
Ia menambahkan, Iran saat ini mengalami hiperinflasi hingga 350%, kekeringan finansial, serta kelumpuhan pada sektor angkatan udara dan angkatan laut. Trump juga mengisyaratkan AS memegang kendali penuh atas navigasi strategis di kawasan Selat Hormuz hingga wilayah pesisir bagian selatan Iran.
Kegagalan Kesepakatan dan Histori Konflik
Pada Juni 2026, pemerintah AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan perselisihan dan memulihkan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Namun, implementasi kesepakatan tersebut kandas akibat perselisihan mendalam mengenai ketentuan navigasi dan syarat penarikan armada.
Eskalasi militer terbuka ini bermula sejak akhir Februari 2026, ketika AS dan Israel meluncurkan serangkaian serangan udara ke berbagai target vital di Iran. Militer Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta menyasar sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Hubungan diplomasi antara AS dan Iran terus berada di titik nadir selama beberapa dekade. Perbedaan pandangan mendasar mengenai program pengembangan nuklir Iran, pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta penerapan sanksi ekonomi unilateral oleh AS menjadi pemicu utama.
Ketegangan semakin meningkat sejak AS secara agresif memperketat kampanye sanksi (_maximum pressure policy_) guna membatasi ekspor minyak dan mengisolasi sistem perbankan internasional Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur lalu lintas maritim paling krusial di dunia, di mana sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah global melintas di perairan sempit tersebut. Konflik terbuka dan gangguan navigasi di Selat Hormuz tidak hanya memicu guncangan pada pasar energi global, tetapi juga mengancam stabilitas pasokan logistik internasional dan memperluas ketidakpastian ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Ikuti DailyFX.ID
