— Pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan multifaset, di mana pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi fondasi krusial. Sementara itu, teknologi berskala besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste-to-Energy (WtE) berperan penting dalam menangani residu sampah yang belum terkelola di tingkat komunitas.

Konsep ini terwujud di RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Sebanyak 41 rumah tangga di wilayah tersebut secara mandiri mengelola sampah melalui kombinasi metode biopori, komposter, budidaya maggot, dan bank sampah.

Ketua RT 08/RW 04, Taufiq Supriadi Yusuf, menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Ia menjelaskan bahwa sampah organik dapat dimanfaatkan kembali, sementara sampah anorganik yang tidak dapat diolah di tingkat warga dapat disalurkan ke fasilitas pengolahan berskala lebih besar.

“Warga harus memilah sampah dari awal. (Sampah) organik itu sebetulnya seperti tambang emas yang bisa dimanfaatkan, lalu yang nonorganik bisa untuk Waste-to-Energy,” ujar Taufiq dalam keterangan persnya, Senin (21/9/2026).

Meskipun demikian, Taufiq menyadari adanya keterbatasan dalam pengelolaan sampah berbasis warga, terutama terkait ketersediaan lahan dan kapasitas pengolahan. Oleh karena itu, kehadiran teknologi WtE dinilai tetap esensial untuk melengkapi upaya pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga.

“Waste-to-Energy tetap harus dilakukan karena mereka punya lahan yang beda dengan kami yang tidak punya lahan. Kalau ada lahan, kami pun senang ada Waste-to-Energy,” imbuhnya.

Menurut Taufiq, solusi pengelolaan sampah idealnya dibangun secara berlapis. Masyarakat diharapkan konsisten melakukan pemilahan dari sumber, sementara pemerintah dan pelaku industri diharapkan menyediakan fasilitas yang memadai untuk mengolah sampah dalam volume yang lebih besar.

Taufiq berharap proyek PLTSa atau WtE dapat berkontribusi dalam mengurangi volume sampah yang terus menumpuk, termasuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun, ia menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak boleh mengurangi semangat masyarakat untuk tetap memilah sampah dari rumah. “Harapan ke depan ya keluarga harus bergerak bersama supaya negara tidak lagi sendirian,” tutup Taufiq.

PSEL Bogor Raya

Di sisi lain, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) telah meresmikan pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada Kamis (17/9/2026).

Fasilitas PLTSa Bogor Raya 1 ini merupakan yang ketiga memasuki tahap pembangunan, setelah PLTSa Denpasar Raya dan PLTSa Kota Bekasi. Fasilitas ini nantinya akan melayani kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa fasilitas ini merupakan bagian dari upaya percepatan pengembangan solusi pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi ramah lingkungan.

“Permasalahan sampah tidak hanya memengaruhi kehidupan kita saat ini, tetapi juga masa depan anak-anak kita. PSEL Bogor Raya I dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, pengembangan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal,” jelas Pandu.

Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, menurunkan emisi dari TPA hingga 80%, serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun.