— JAKARTA – Program Recycle for Good kini diperluas jangkauannya ke empat wilayah baru di Indonesia. Langkah ini diambil untuk memperkuat upaya daur ulang dan mencegah sampah plastik mencemari laut, dengan menggabungkan keterlibatan masyarakat agar proses daur ulang menjadi lebih mudah diakses dan praktis.

Program yang diselenggarakan oleh SIG bersama mitra-mitranya, yaitu Plastic Bank, Wuppertal Institute for Climate, Environment and Energy, serta Decision Context, sebelumnya telah berjalan di Jakarta dan sekitarnya. Kini, program ini merambah ke Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Bali.

Ekspansi ini merupakan bagian dari proyek regional ‘Recycle for Good – Prevent Marine Litter’. Proyek ini mendapatkan pendanaan dari ZUG atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir.

Commercial Director Asia Pacific South, Japan and Korea di SIG, Noer Wellington, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membuat daur ulang lebih mudah diakses, praktis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. “Masalah sampah laut tidak dapat diatasi hanya melalui peningkatan kesadaran. Namun, diperlukan pula pemilahan yang lebih baik, jaringan pengumpulan yang lebih kuat, infrastruktur daur ulang yang mumpuni, serta partisipasi berkelanjutan dari masyarakat dan para mitra di sepanjang value chain,” ujar Noer di Jakarta, Senin (21/9/2026).

SIG bersama para mitra berupaya memastikan lebih banyak kemasan bekas masuk ke alur pemulihan dan daur ulang yang tepat. Selain itu, program ini juga mendorong kebiasaan daur ulang yang memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara berkelanjutan. “Perluasan program ini bertujuan untuk memperkuat upaya pemilahan, pengumpulan, dan daur ulang sampah, sekaligus mendorong partisipasi yang lebih luas dari masyarakat dan para pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai limbah kemasan,” tambah Noer Wellington.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, SIG telah berkolaborasi dengan Eco-Paper untuk meningkatkan peralatan pulping di fasilitas daur ulangnya. Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat memproses karton minuman bekas pakai secara lebih efektif.

Inisiatif “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” mencakup kegiatan di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Bali. Hingga kini, proyek telah dilaksanakan di 389 lokasi dengan dukungan dari berbagai mitra, termasuk sekolah, komunitas, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, dan pengumpul sampah.

Dari Kesadaran Menuju Ekosistem Daur Ulang yang Lebih Kuat

Program “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” dirancang untuk menjangkau berbagai tahapan dalam sistem pengelolaan sampah. Upaya yang dilakukan meliputi peningkatan kesadaran pemilahan dan pembuangan sampah yang bertanggung jawab di tingkat rumah tangga, sekolah, dan komunitas. Selain itu, program ini juga berfokus pada penguatan sistem pengumpulan sampah, pengembangan infrastruktur daur ulang, serta kolaborasi erat antara pengumpul sampah, pelaku daur ulang, pelaku usaha, institusi, dan komunitas.

Mulyanto Diharjo, Koordinator Bank Sampah Patriot di Bekasi, menyoroti tantangan pengelolaan sampah di lapangan. “Secara umum, pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang sampah masih sangat rendah. Jenis-jenis sampah apa saja, termasuk plastik itu ada berapa jenis, secara umum masyarakat belum banyak yang tahu. Kemudian, bagaimana cara memilahnya juga secara umum masih belum dipahami,” ungkapnya.

Mulyanto mengidentifikasi tiga poin utama yang perlu ditingkatkan pada masyarakat terkait sampah: knowledge, awareness, dan habit. Tantangan lain yang dihadapi adalah nilai sampah yang terkadang tidak sesuai ekspektasi masyarakat, terutama untuk kemasan multi-layer seperti sachet yang lengket dan sulit dibersihkan. Kendala teknis terkait tertundanya pengangkutan sampah, terutama untuk low-value plastics, juga menjadi masalah serius.

Emma Rosada, MPd, Principal of SD Muhammadiyah 3 Denpasar Education Leader Circular School Practition, menambahkan bahwa di tingkat sekolah, kesadaran dan sistem menjadi fokus utama. “Demi membangun kesadaran, kami telah memberikan edukasi kepada para siswa karena sekolah kami memadukan kurikulum Cambridge dengan pendidikan lingkungan,” ujarnya.

Meskipun edukasi telah diberikan, Emma mengakui adanya kendala sistem. “Kami sudah memberikan edukasi kepada para siswa, dan guru-guru pun menyampaikan bahwa mereka harus memilah sampah—tidak mencampur berbagai jenis sampah—serta memahami alasan mengapa kita perlu mengurangi penggunaan plastik. Namun, meskipun kami telah melakukan hal tersebut—dan para siswa pun sudah memilah sampah mereka—terkadang mereka masih belum tahu ke mana sampah plastik itu harus disalurkan selanjutnya,” ungkap Emma.

Kerja sama dengan Plastic Bank di SD Muhammadiyah 3 Denpasar membantu mengatasi masalah penyaluran sampah plastik. Namun, Emma menekankan bahwa kondisi ini belum merata di seluruh Indonesia. “Oleh karena itu, sistem pendukungnya harus berjalan secara konsisten. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya perlu bekerja sama erat dengan pihak sekolah untuk memastikan sistem tersebut berjalan berkesinambungan, mulai dari tahap pemilahan dan pengangkutan hingga tahap daur ulang,” tegasnya.