DailyFX.ID — INDRAMAYU – PT Pertamina EP (PEP) Zona 7 Jatibarang Field, Regional Jawa Bagian Barat, berhasil meningkatkan pemanfaatan potensi gas dengan menekan kandungan karbon dioksida (CO₂) dari 65% menjadi 5%. Inovasi ini menjadikan gas tersebut dapat dimonetisasi dengan harga jual yang tinggi, mencapai US$9 per mmbtu.
Upaya peningkatan produksi dan ketahanan energi ini merupakan bagian dari investasi dan perencanaan untuk memanfaatkan kandungan CO₂ yang sebelumnya tinggi. “Dengan adanya upaya untuk meningkatkan produksi dan ketahanan energi, kita berusaha membuat plan dan berinvestasi supaya 65% tadi bisa dimanfaatkan dan dimonetisasi nilai keekonomian gas tersebut,” ujar Dendy Gradienda, Supervisor SP ABG Jatibarang Field.
Semula, gas yang dihasilkan dari Lapangan Akasia, bagian dari Lapangan Jatibarang, tidak dapat dijual karena kandungan impurities yang sangat tinggi, terutama CO₂ mencapai 65%. Untuk mengatasi hal ini, Pertamina membangun fasilitas produksi yang dilengkapi dengan CO₂ Removal Package menggunakan sistem amine (MDEA) di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1.
Keberhasilan ini menjadikan gas dari SP ABG sebagai gas dengan harga jual tertinggi di Indonesia. Dendy mengklaim bahwa plant di SP ABG Jatibarang ini mungkin merupakan satu-satunya di dunia yang mampu menurunkan kadar CO₂ dengan persentase terbesar. Pada ajang Indonesia Petroleum Association Convex (IPA Convex) lalu, gas dari SP ABG tercatat terjual dengan harga US$9 per MMBTU.
Keberhasilan ini membuka peluang untuk direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik gas serupa, seperti di Natuna. SP ABG Jatibarang kini menjadi pilot project dan percontohan nasional dalam teknologi penanganan gas CO₂ tinggi.
Terkait target produksi, Dendy menyebut pihaknya akan menjalankan dua train SP ABG hingga kapasitas penuh. “Target di 2026, kita akan berusaha merunning dua plant SP ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD gross, supaya target net 8 MMSCFD di akhir tahun bisa achieve,” kata Dendy.
Saat ini, produksi SP ABG masih berkisar 10-11 MMSCFD dengan net sekitar 3,3 hingga 3,5 MMSCFD. Peningkatan ke kapasitas penuh akan dilakukan setelah commissioning Thermal Oxidizer (TOX) yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Sebelumnya, PT Pertamina EP telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Cikarang Listrindo pada Rabu (20/5/2026). Perjanjian yang berlaku hingga 16 September 2035 ini akan mendukung pemenuhan kebutuhan industri di wilayah Jawa Barat. Pasokan gas berasal dari Lapangan Akasia Bagus, Jatibarang Field, dengan total volume mencapai 20 miliar standar kaki kubik (BSCF).
Kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk memastikan ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan bagi sektor industri nasional, khususnya di Jawa Barat. Lapangan Akasia Bagus yang dikembangkan berdasarkan Plan of Development (POD) sejak 27 Desember 2017, melalui dua tahap, Stage 1 dan Stage 2, kini mampu menampung hasil produksi migas dari kapasitas awal 1.750 BLPD dan 3 MMSCFD, menjadi 9.000 BLPD dan 22 MMSCFD.
Ikuti DailyFX.ID
