DailyFX.ID — Pengembangan program migas nonkonvensional (MNK) yang dirintis oleh PT Pertamina melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), di Blok Rokan diprediksi dapat menjadi penentu arah baru bagi produksi minyak di Indonesia. Langkah ini serupa dengan yang pernah dilakukan Amerika Serikat, yang berhasil bertransformasi dari negara pengimpor menjadi eksportir minyak mentah.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa MNK memiliki potensi besar yang mampu menjadikan suatu negara sebagai produsen minyak signifikan di dunia. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang mengalami lonjakan produksi setelah mengembangkan MNK pada awal tahun 2000-an.
Di Indonesia, Komaidi menilai potensi MNK juga cukup menjanjikan. Namun, tantangan utamanya terletak pada karakteristik batuan yang berbeda dan lebih kompleks, sehingga memerlukan penerapan teknologi pengeboran yang berbeda dari sumur migas konvensional. Hal ini tentu berimplikasi pada biaya produksi yang berbeda pula, sehingga kajian mendalam diperlukan untuk memastikan nilai ekonomis penerapan MNK.
Komaidi menyambut baik upaya pengembangan MNK di Zona Rokan sebagai bukti keandalan Pertamina. Ia menambahkan bahwa Pertamina, melalui kerja sama riset dan pendidikan teknologi MNK dengan perguruan tinggi pertambangan di Amerika Serikat, menunjukkan kemampuannya dalam perencanaan hingga eksekusi. “Artinya, PHR memiliki kehandalan memproduksi MNK,” tegas Komaidi.
Keberhasilan program MNK PHR, menurut Komaidi, diharapkan akan meningkatkan rasio cadangan dan produksi migas, yang pada gilirannya akan memperpanjang usia bisnis migas di Indonesia, terutama dengan adanya potensi MNK. Kekhawatiran perusahaan migas akan habisnya cadangan baru dapat teratasi dengan penemuan dan produksi sumur MNK, yang sekaligus dapat memperpanjang usia bisnis PHR dan Pertamina secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Komaidi menyatakan bahwa keberhasilan ini juga akan mendongkrak kredibilitas Pertamina di kancah produksi migas global. Pemanfaatan potensi MNK diharapkan dapat mendukung ketahanan energi nasional. Mengingat blok migas baru seringkali berada di laut dalam di wilayah timur Indonesia yang memiliki kendala infrastruktur dan kompleksitas lebih tinggi serta biaya lebih mahal, pengembangan MNK menjadi alternatif yang lebih efisien.
Ikuti DailyFX.ID
