DailyFX.ID — MOROWALI UTARA – Sebanyak 1.900 karyawan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) harus kehilangan pekerjaan menyusul rampungnya proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berlangsung sejak Rabu (5/8/2026) hingga Sabtu (8/8/2026). Kebijakan efisiensi perusahaan nikel terbesar di Morowali Utara ini tidak hanya meningkatkan angka pengangguran, tetapi juga menyisakan kisah pilu bagi pasangan suami istri yang terdampak.
Ani Satriani (28), salah satu pekerja yang telah mengabdi selama tiga tahun delapan bulan di PT GNI, harus rela diberhentikan. Situasi Ani menjadi lebih berat karena suaminya juga mengalami nasib serupa. “Suami saya juga sudah terkena PHK. Kami hanya bisa berharap segera mendapatkan pekerjaan baru,” ujar Ani pada Sabtu (8/8/2026).
Meskipun terdampak kebijakan efisiensi, Ani mengungkapkan bahwa PT GNI telah memberikan banyak kenangan dan pengalaman kerja yang berkesan. Ia merasa nyaman bekerja di lingkungan yang suportif dan menganggap rekan-rekannya sudah seperti keluarga sendiri. “GNI adalah tempat ternyaman karena menjadi tempat pertama saya diterima bekerja. Di sana saya mendapat rekan kerja yang baik dan sudah seperti keluarga sendiri,” tuturnya.
Ani dan suaminya berencana untuk tetap tinggal di Morowali Utara sambil mencari peluang pekerjaan di perusahaan lain, sembari berharap kondisi perusahaan dapat segera membaik. Ia berharap PT GNI dapat kembali menyerap tenaga kerja lokal untuk mengurangi tingkat pengangguran.
Pengurangan Operasional Jadi Alasan Utama
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Morowali Utara, Yartikanis Lakawa, menjelaskan bahwa rasionalisasi tenaga kerja ini disebabkan oleh penurunan aktivitas operasional perusahaan. Saat ini, PT GNI hanya mengoperasikan satu unit smelter dan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
“Saat ini yang beroperasi hanya Smelter 3 dan bagian PLTU. Rasio ideal penggunaan tenaga kerja untuk satu smelter dengan sembilan tungku adalah 1 banding 4.000. Jika ditambah dengan unit PLTU, kapasitas idealnya mempekerjakan sekitar 4.200 karyawan,” jelas Yartikanis.
Yartikanis menambahkan bahwa sepanjang tahun 2025, PT GNI telah melakukan efisiensi terhadap sekitar 1.800 karyawan. Dengan tambahan 1.900 pekerja yang terdampak pada Agustus 2026, total pekerja yang terkena PHK dalam dua tahun terakhir diperkirakan mencapai 3.700 orang.
PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di sektor hilirisasi nikel yang beroperasi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Sejak beroperasi secara komersial, perusahaan ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja dari berbagai wilayah.
Namun, dinamika industri smelter global, seperti fluktuasi harga nikel dunia, penyesuaian pasokan bahan baku, hingga pergeseran efisiensi operasional, menjadi tantangan berat bagi keberlangsungan industri pengolahan nikel di dalam negeri. Kondisi ini memaksa sejumlah smelter mengurangi kapasitas produksi dan mengoptimalkan unit operasi tertentu, yang berdampak langsung pada pengurangan tenaga kerja secara masif dalam beberapa tahun terakhir.
Ikuti DailyFX.ID
