DailyFX.ID — Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington akan diwarnai ketimpangan kehadiran delegasi bisnis. Trump dijadwalkan memboyong jajaran pimpinan korporasi raksasa, termasuk perusahaan teknologi besar AS (Big Tech), sementara Xi Jinping diprediksi tidak akan membawa pejabat eksekutif utama perusahaan dari negaranya.
Seorang pejabat senior pemerintah AS menyatakan bahwa tidak ada agenda kehadiran delegasi bisnis dari pihak China dalam kunjungan kenegaraan ini. Ketidakhadiran para pebisnis China tersebut mencerminkan potensi perbedaan ekspektasi dan prioritas negosiasi antara kedua negara ekonomi terbesar dunia itu.
Donald Trump dijadwalkan menggelar diskusi bilateral pada Kamis (24/9/2026) waktu setempat, yang dilanjutkan dengan acara makan malam kenegaraan. Dalam acara tersebut, sederet pemimpin industri teknologi dan keuangan terkemuka AS dipastikan hadir. Trump mengungkapkan optimismenya untuk mencapai berbagai kesepakatan bisnis baru selama konferensi tingkat tinggi (KTT) berlangsung.
Deretan tokoh bisnis AS yang dijadwalkan hadir dalam makan malam kenegaraan tersebut meliputi Mark Zuckerberg (Meta Platforms), Jensen Huang (Nvidia), Sam Altman (OpenAI), Satya Nadella (Microsoft), Jeff Bezos (Amazon.com), Tim Cook (Apple), Elon Musk (Tesla), Sundar Pichai (Alphabet), serta Michael Dell (Dell Technologies). Dari sektor keuangan, hadir pula Jane Fraser (Citigroup), Jamie Dimon (JPMorgan Chase & Co.), dan Michael Miebach (Mastercard).
Selain para pemimpin bisnis, Trump didampingi oleh jajaran pejabat kunci bidang ekonomi dan perdagangan, termasuk Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Energi Chris Wright, serta Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.
Sikap China pada KTT kali ini berbeda dibandingkan kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke AS pada 2015. Saat itu, Xi membawa rombongan bisnis berskala besar yang mencakup pendiri Alibaba Group Holding Jack Ma, pimpinan Tencent Holdings Pony Ma, serta jajaran eksekutif dari berbagai perusahaan milik negara China.
Absennya delegasi bisnis China terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara AS dan China yang dipicu oleh persaingan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pembatasan ekspor mineral kritis, hingga dinamika geopolitik Selat Taiwan.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyampaikan kepada Bloomberg Television, kedua belah pihak masih memiliki perbedaan pandangan terkait syarat perpanjangan kesepakatan gencatan senjata perdagangan.
Pertemuan ini berlangsung pada momen politik yang krusial bagi kedua pimpinan negara. Trump menghadapi tantangan politik menjelang pemilu sela pada November mendatang yang dapat memengaruhi peta kekuatan di Kongres. Sementara itu, Xi Jinping bersiap melangkah ke masa jabatan periode keempat di tengah tantangan perlambatan ekonomi domestik China.
Dinamika hubungan antara AS dan China terus menjadi pilar utama pembentuk arah perekonomian global. Sejak beberapa tahun terakhir, persaingan kedua negara meluas dari isu tarif impor hingga perebutan supremasi teknologi canggih seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan.
Pembatasan ekspor mineral mentah oleh China serta penerapan regulasi ketat oleh AS terhadap akses teknologi menjadi hambatan utama dalam negosiasi bilateral. KTT di Washington ini menjadi momentum bagi kedua belah pihak untuk meredam risiko ketegangan geopolitik sekaligus menentukan arah stabilitas pasar dunia.
Ikuti DailyFX.ID
