— Sektor pariwisata Indonesia mulai menunjukkan tren pemulihan pada semester I-2026. Peningkatan kinerja pariwisata sepanjang awal tahun ini dianggap lebih banyak ditopang oleh momentum musiman, terutama periode Ramadan dan libur Lebaran.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, bulan puasa yang berlangsung hampir sepanjang Maret 2026 memberikan dorongan terhadap mobilitas masyarakat. Periode libur Lebaran yang masih berada di penghujung kuartal I menjadi salah satu faktor yang mengangkat tingkat hunian hotel.

Memasuki kuartal II-2026, industri hotel juga mencatatkan perbaikan. Ia memperkirakan tingkat okupansi meningkat sekitar 2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, capaian tersebut masih belum mampu menyamai performa 2024. “Kalau dibandingkan 2025 memang ada peningkatan, tetapi tetap masih lebih rendah dibandingkan kuartal II-2024,” kata Maulana kepada Investor Daily, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Ia menjelaskan, 2024 menjadi salah satu periode dengan kinerja pariwisata tertinggi setelah pandemi, karena didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat serta aktivitas pemerintah yang turut menggerakkan perjalanan bisnis. Sebaliknya, pada 2025 sektor pariwisata mengalami tekanan. Maulana mencatat kinerja industri mengalami penurunan sekitar 3,25% secara tahunan dibandingkan 2024. Salah satu penyebab pelemahan tersebut adalah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak terhadap aktivitas perjalanan dinas, kegiatan bisnis, serta penyelenggaraan berbagai acara.

Meski jumlah wisatawan mulai meningkat, dia menilai pemulihan pariwisata belum sepenuhnya tercermin dalam pendapatan pelaku usaha. Salah satu faktor utama yang masih menjadi hambatan adalah daya beli masyarakat. Wisatawan nusantara (Wisnus) masih menjadi motor utama pergerakan pariwisata nasional karena jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan wisatawan mancanegara. Namun, peningkatan jumlah perjalanan domestik belum sepenuhnya diikuti oleh kenaikan belanja wisatawan. “Kalau Wisnus, masalahnya masih banyak di daya beli. Spending mereka belum sebesar sebelumnya,” kata Maulana.

Terlalu Cepat Puas

Pengamat pariwisata Azril Azahari menilai pemerintah terlalu cepat puas, karena ukuran yang digunakan belum dibandingkan dengan negara lain maupun sektor ekonomi domestik. Menurutnya, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tidak bisa menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pariwisata.

Azril mendorong pemerintah untuk mengubah cara melihat keberhasilan pariwisata. “Jangan hanya melihat rapor sendiri. Bandingkan dengan rata-rata kelas. Kita harus dibandingkan dengan negara ASEAN dan sektor ekonomi lain di dalam negeri,” kata dia.

Menurut Azril, jika indikator seperti kontribusi PDB, *multiplier effect*, lama tinggal wisatawan, belanja wisatawan, dan penyerapan tenaga kerja dihitung secara menyeluruh, posisi Indonesia masih membutuhkan banyak perbaikan. “Kalau melihat keseluruhan indikator, rapor kita masih merah. Kita belum naik kelas,” tegas Azril.

Dia menerangkan, Indonesia saat ini masih berada pada tahap pertumbuhan yang berjalan, sementara sejumlah negara tetangga sudah berlari lebih cepat. Vietnam, misalnya, mencatat lonjakan kunjungan wisatawan internasional hingga sekitar 21 juta wisatawan pada 2025, sementara Indonesia berada di kisaran 15 juta kunjungan.

Azril menerangkan, sektor yang disebut unggulan harus memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan. “Kalau mau disebut sektor unggulan, lihat kontribusi terhadap PDB, bukan hanya devisa. Kalau kontribusinya sudah 15% atau 20% ke atas, baru bisa dikatakan unggulan,” ujar dia.

Kontribusi PDB Pariwisata Masih Tertinggal

Azril menyebut kontribusi pariwisata Indonesia terhadap PDB masih berada di bawah 5%. Data pemerintah juga menunjukkan kontribusi pariwisata terhadap PDB masih berada di kisaran 3,96% hingga 4,9% pada 2025. Sebagai pembanding, sejumlah negara ASEAN memiliki kontribusi pariwisata terhadap ekonomi yang lebih tinggi.

Berdasarkan estimasi pemerintah, kontribusi PDB pariwisata Malaysia mencapai sekitar 15,4%, Thailand 12%, Filipina 9,3%, Singapura 9,2%, sedangkan Vietnam sekitar 7,1%. “Jadi kalau dibandingkan dengan sektor lain di dalam negeri maupun negara lain di luar negeri, posisi kita masih tertinggal,” kata Azril.

Dia juga mempertanyakan klaim bahwa pariwisata telah menjadi sektor unggulan karena dalam klasifikasi ekonomi nasional, pariwisata belum berdiri sebagai satu sektor tersendiri. Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), aktivitas pariwisata masih tersebar dalam beberapa kategori seperti akomodasi, makanan dan minuman, perdagangan, hingga transportasi. “Bagaimana bisa disebut sektor unggulan kalau dalam KBLI saja tidak ada sektor pariwisata? Kontribusinya dikumpulkan dari beberapa sektor lain,” ujar Azril.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengklaim, sektor pariwisata Indonesia sepanjang Semester I-2026, dari berbagai indikator utama mencatatkan pertumbuhan positif, mulai dari kunjungan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara, realisasi investasi, hingga tingkat okupansi hotel.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan atau tumbuh 5,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya meningkat hampir 10%, Asia Tenggara tumbuh 8,22%, sedangkan pasar Oseania naik 6,60%.

Menpar mengatakan, pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional. Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%, dengan sektor-sektor yang berkaitan erat dengan pariwisata memberikan kontribusi signifikan. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60%, transportasi dan pergudangan 5,65%, jasa perusahaan 5,08%, serta jasa lainnya 6,36%. Secara keseluruhan, sektor-sektor tersebut menyumbang sekitar 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Angka-angka tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus,” kata dia.

Perkuat MICE

Maulana berharap pemerintah dapat kembali memperkuat aktivitas MICE (*Meeting, Incentive, Convention, Exhibition*) dan berbagai *event* nasional maupun internasional untuk menjaga momentum pemulihan. Dia mengatakan, kegiatan MICE memiliki dampak besar terhadap ekosistem pariwisata karena tidak hanya meningkatkan okupansi hotel, tetapi juga menggerakkan sektor transportasi, restoran, hingga tenaga kerja.

“Event dan MICE menjadi salah satu tulang punggung pariwisata. Dampaknya bukan hanya hotel, tetapi juga penerbangan, transportasi, dan sektor pendukung lainnya,” papar Maulana.

Dia juga melihat prospek pariwisata masih akan menghadapi sejumlah tantangan di semester II-2026. Padahal, kuartal III dan IV biasanya menjadi periode yang dinantikan industri hotel karena masuk musim ramai atau *high season*.

“Kalau melihat tahun-tahun sebelumnya, kuartal III dan IV itu biasanya menjadi periode yang sangat dinantikan pelaku hotel karena ada libur sekolah dan banyak aktivitas pemerintah,” ujar Maulana.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik global juga menjadi risiko baru bagi industri. Konflik Iran misalnya, berpotensi meningkatkan biaya operasional melalui kenaikan harga energi dan bahan baku. “Perang Iran juga menjadi tantangan karena berkaitan dengan operasional cost, terutama harga bahan bakar dan bahan pokok,” kata dia.