— PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mengakui bahwa sistem kelistrikan, khususnya di wilayah Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), menghadapi tekanan signifikan akibat menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro. Fenomena cuaca ekstrem El Nino menjadi penyebab utama kondisi ini.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa kondisi hidrologi yang terdampak El Nino menyebabkan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso, Bakaru, Malea, serta beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) mengalami penurunan drastis. Ia merinci, daya mampu agregat pembangkit hidro anjlok dari sekitar 850 megawatt (MW) menjadi hanya 250 MW, yang berarti berkurang sekitar 600 MW.

Penurunan pasokan ini menambah tekanan pada keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan listrik di Sulbagsel. Menghadapi situasi ini, PLN telah melancarkan sejumlah langkah strategis secara simultan untuk mengatasi defisit pasokan.

Selain mempercepat proses perbaikan pembangkit yang ada, PLN juga berupaya mengoptimalkan pembangkit yang masih beroperasi dan menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 627 MW. Darmawan menambahkan, PLN berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tujuannya adalah meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro. Namun, tantangan tetap ada karena kondisi atmosfer yang sangat kering membatasi ketersediaan awan yang dapat disemai.

“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali,” ungkap Darmawan dalam keterangannya pada Rabu (16/9/2026).

Untuk solusi jangka panjang, PLN juga tengah menyiapkan penguatan sistem Sulbagsel agar menjadi lebih beragam, fleksibel, dan tangguh dalam menghadapi dinamika pasokan di masa depan. Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan penambahan sekitar 5,2 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS).

“PLTS akan menambah pasokan dari sumber yang tidak bergantung pada air, sementara BESS menjadi penyangga ketika produksi hidro turun,” pungkas Darmawan.