DailyFX.ID — Pengembangan potensi energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran berpeluang besar dalam mendukung upaya pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan. Selain itu, inisiatif ini juga dinilai dapat memperkuat pemanfaatan sumber energi rendah karbon di Indonesia.
Profesor Fisika dari Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Eng. Agus Setyawan, menjelaskan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) secara umum menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil,” ujarnya.
Prof. Agus menambahkan bahwa panas bumi memanfaatkan energi panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik. Kinerja dan tingkat emisi sebuah pembangkit sangat bergantung pada karakteristik sumber panas serta teknologi yang diterapkan. Ia menilai energi panas bumi dapat menjadi salah satu sumber energi rendah karbon yang penting, sekaligus memperluas keragaman bauran listrik nasional.
“Panas bumi juga dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Agus menguraikan bahwa fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami, seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Namun, besaran emisi yang dihasilkan bervariasi, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan. Oleh karena itu, pengelolaan fluida menjadi aspek krusial dalam pengembangan panas bumi.
Salah satu mekanisme pengelolaan yang efektif adalah melalui reinjeksi fluida yang telah digunakan kembali ke dalam reservoir. “Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” imbuhnya.
Menurut Prof. Agus, keberlanjutan reservoir menjadi faktor penentu seberapa lama sumber panas bumi dapat terus dimanfaatkan. Pengelolaan yang tepat sangat penting agar pembangkit dapat beroperasi dalam jangka panjang dengan dampak lingkungan yang tetap terkendali. Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, yang telah beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka waktu lama.
“Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya dalam jangka panjang seperti di Kamojang, keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan, dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global,” ujarnya.
Khusus untuk pengembangan di Gunung Ungaran, Prof. Agus menekankan pentingnya hasil eksplorasi dan kajian yang memadai sebelum menentukan langkah pengembangan selanjutnya. Data mendalam diperlukan untuk memahami karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan, potensi listrik yang bisa dihasilkan, serta potensi dampak lingkungannya.
“Pada saat yang sama, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting agar manfaat energi panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” katanya.
Ikuti DailyFX.ID
