— Indeks-indeks saham Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (24/9/2026), dengan Dow Jones Industrial Average melemah untuk hari ketiga berturut-turut. Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam beberapa dekade menekan saham, terutama sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

Dow Jones turun 161,61 poin (0,31%) menjadi 51.349,98 dan indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,02% menjadi 7.704,13. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat kenaikan tipis 0,01% ke level 26.939,37.

Tekanan pasar semakin terasa setelah yield obligasi AS 30 tahun menyentuh 5,501%, level tertinggi sejak Juni 2004. Yield obligasi AS 10 tahun yang menjadi acuan pasar juga melonjak ke 5,223%, level yang belum terlihat sejak Juni 2007. Sementara itu, yield obligasi AS 2 tahun naik menjadi 4,941%.

Kenaikan yield tersebut kembali menghidupkan ekspektasi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hampir 71%, meningkat dari sekitar 55% sepekan sebelumnya.

Yield obligasi yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman meningkat bagi konsumen dan perusahaan. Kondisi ini menjadi semakin berat ketika harga energi ikut melonjak dan berpotensi menambah tekanan inflasi.

Harga minyak Brent, acuan global, naik lebih dari 3% dan ditutup di atas US$ 106 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% menjadi US$ 94,61 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Namun, Wall Street sempat memangkas sebagian pelemahannya setelah Reuters melaporkan bahwa negosiator AS dan Iran di New York tengah mempertimbangkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara bertahap.

Dalam skenario tersebut, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS akan mencabut blokade ekonomi terhadap Teheran.

Yield Obligasi AS Menghantui

Meski demikian, tingginya yield obligasi AS dan harga minyak tetap menjadi beban pasar. Data ekonomi AS yang kuat juga membuat kekhawatiran inflasi belum sepenuhnya mereda.

“Ekonomi terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi kekuatan tersebut membuat kekhawatiran inflasi tetap hidup dan mendorong suku bunga lebih tinggi,” kata Jason Stephens, pendiri Evertern Wealth.

Menurut Stephens, persoalan utama pasar bukan hanya apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga, tetapi juga berapa lama suku bunga akan bertahan di level tinggi.

Ia menilai yield obligasi AS 10 tahun di atas 5% pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap sektor perumahan, pembiayaan korporasi, pasar swasta, hingga valuasi saham.

Stephens juga menyebut harga energi sebagai salah satu faktor yang paling menentukan. Pergerakan harga minyak akibat perkembangan konflik Timur Tengah dapat langsung memengaruhi inflasi dan kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga.

Di sektor teknologi, saham Oracle menjadi salah satu pemberat utama. Saham perusahaan tersebut anjlok 3,5% setelah Bloomberg melaporkan Oracle menggunakan klausul force majeure untuk melindungi perusahaan jika proyek pusat data di New Mexico mengalami keterlambatan.

Pergerakan tersebut menambah tekanan di tengah pasar yang masih mencermati valuasi saham teknologi dan besarnya investasi perusahaan dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).