DailyFX.ID — Prospek kinerja PT Darma Henwa Tbk (DEWA) pada paruh kedua tahun ini diproyeksikan tetap positif. Kinerja perusahaan ditopang oleh peluang penambahan kontrak di luar grup PT Bumi Resources Tbk (BUMI), peningkatan porsi pekerjaan internal yang ditargetkan mencapai 100%, serta dimulainya proyek PT Sebuku Sejaka Coal.
Investment Analyst Stockbit Group, Everson Sugianto, menilai tambahan volume pekerjaan akan menjadi pendorong utama kinerja DEWA pada semester II-2026. Di sisi lain, proyek Sebuku Sejaka Coal berpotensi memberikan tarif pengerjaan yang lebih tinggi dibandingkan proyek perseroan di PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal.
Pandangan positif ini disampaikan setelah Darma Henwa menggelar rapat pendapatan (earnings call) pada 11 Agustus 2026 untuk membahas kinerja semester I-2026 sekaligus prospek semester II-2026. Stockbit mempertahankan pandangan positifnya terhadap DEWA pada semester II-2026.
“Hal itu didukung tiga faktor utama, yakni potensi kontrak baru di luar grup BUMI, ekspansi margin laba kotor seiring porsi pengerjaan internal yang akan mencapai 100%, serta harga batu bara yang tetap terjaga pada level tinggi,” tulis Everson dalam catatannya, Rabu (12/8/2026).
DEWA telah memulai aktivitas pengeboran di tambang PT Sebuku Sejaka Coal pada awal Agustus 2026. Proyek tersebut memiliki cakupan pekerjaan yang lebih luas dibandingkan pekerjaan DEWA di anak usaha BUMI, yakni PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Berdasarkan penjelasan manajemen DEWA, pekerjaan di tambang Sebuku Sejaka Coal mencakup land clearing, pemeliharaan infrastruktur, dan blasting, selain overburden removal dan coal digging.
Cakupan pekerjaan yang lebih luas tersebut mengimplikasikan pendapatan per bank cubic meter (bcm) – satuan volume material tambang – yang lebih tinggi. Namun, tarif yang lebih tinggi tersebut belum tentu langsung menghasilkan peningkatan margin.
Belanja modal (capital expenditure/capex) untuk proyek Sebuku Sejaka Coal diperkirakan mencapai Rp 1 triliun. Pendanaannya akan berasal sebagian dari utang bank melalui konsorsium PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta vendor financing.
Everson menjelaskan, prospek pertumbuhan Darma Henwa pada semester II-2026 lebih banyak bertumpu pada peningkatan volume pekerjaan dibandingkan kenaikan tarif. Untuk proyek PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal, manajemen DEWA memperkirakan tarif pengerjaan relatif datar sepanjang tahun ini. Namun, tarif secara konsolidasi berpotensi sedikit meningkat setelah pekerjaan untuk PT Sebuku Sejaka Coal mulai berjalan.
Potensi kenaikan tersebut terkait dengan karakter pekerjaan Sebuku Sejaka Coal yang diperkirakan memiliki tarif lebih tinggi dibandingkan proyek yang telah berjalan. Selain itu, peluang memperoleh tambahan kontrak dari perusahaan di luar grup BUMI menjadi salah satu katalis yang dinilai dapat mendukung pertumbuhan volume DEWA pada semester II-2026.
Peningkatan proporsi pekerjaan yang dikerjakan secara internal hingga mencapai 100% juga diproyeksikan mendukung ekspansi margin laba kotor perseroan. Meski prospek semester II-2026 dinilai positif, Everson menyebut hasil revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 masih menjadi risiko utama bagi DEWA. Perubahan kuota produksi tersebut berpotensi memengaruhi volume pertambangan dari para klien DEWA.
Dalam earnings call, manajemen DEWA juga memberikan penjelasan mengenai faktor non-berulang (one-off) pada kinerja kuartal II-2026. Manajemen menjelaskan kenaikan nilai wajar investasi saham pada periode tersebut berkaitan dengan investasi DEWA di PT Pendopo Energi Batubara. Kenaikan nilai wajar terjadi karena penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dibandingkan level ketika penilaian terakhir dilakukan pada 2020. Penilaian kembali dilakukan menyusul pergantian auditor perseroan. Manajemen memperkirakan proses penilaian berikutnya akan dilakukan setiap tiga tahun.
Target Harga DEWA Terbaru
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih Darma Henwa (DEWA) pada 2026, 2027, dan 2028 masing-masing sebesar 36%, 130%, dan 141%. Revisi tersebut mempertimbangkan perkiraan kontribusi dari proyek-proyek baru.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham DEWA dengan target harga baru sebesar Rp 550, naik dari target sebelumnya Rp 300. Target harga tersebut menggunakan metode valuasi SOTP yang mencakup valuasi DEWA berdasarkan metode arus kas terdiskonto (discounted cash flow/DCF), serta nilai buku Gayo Mineral Resources (GMR) sebesar Rp 7 triliun.
Saat ini, saham DEWA diperdagangkan pada rasio forward P/E sebesar 17,8 kali. Valuasi premium tersebut ditopang oleh volume pekerjaan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia yang relatif stabil, prospek pertumbuhan proyek yang kuat, serta potensi pembukaan nilai dari GMR. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih DEWA meningkat dari Rp 748 miliar pada 2026 menjadi Rp 1,52 triliun pada 2027 atau melonjak 104% secara tahunan.
Risiko utama terhadap proyeksi ini meliputi alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih rendah, keterlambatan pelaksanaan proyek atau penempatan armada, serta kenaikan belanja modal, harga bahan bakar, dan biaya pendanaan.
Ikuti DailyFX.ID
