DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pelemahan pada sesi pertama perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Tekanan ini terutama disebabkan oleh aksi ambil untung atau profit taking oleh investor yang mengantisipasi pengumuman kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia (BI).
Pada akhir sesi I, IHSG tercatat turun 38,63 poin atau 0,6% ke level 6.411. Pilarmas Investindo Sekuritas mengidentifikasi sentimen domestik sebagai faktor utama yang membebani pergerakan indeks. Aksi profit taking menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menjadi sorotan utama.
Pasar secara umum memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya, BI-Rate, di level 5,75%. Selain itu, investor juga menantikan arah kebijakan BI ke depan, terutama terkait upaya menjaga stabilitas nilai rupiah, pengendalian inflasi, dan proyeksi arus modal asing masuk ke Indonesia.
Keputusan kebijakan BI kali ini menjadi perhatian khusus karena merupakan yang pertama di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Gubernur BI, Destry Damayanti. Pelaku pasar tidak hanya fokus pada penetapan suku bunga, tetapi juga ingin mendengar pandangan BI mengenai kondisi perekonomian terkini dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
“Dari internal, IHSG hari ini dibayangi aksi profit taking dan juga pasar fokus ke keputusan kebijakan Bank Indonesia hari ini,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Rabu (19/8/2026).
Selain isu kebijakan BI, pasar domestik juga masih dipengaruhi oleh keputusan FTSE yang memutuskan untuk menahan penambahan konstituen baru dari pasar modal Indonesia hingga tinjauan indeks berikutnya pada Desember 2026. “Keputusan tersebut berpotensi menahan aliran dana asing sekaligus menjadi ujian terhadap kredibilitas regulator dalam menjalankan reformasi pasar modal Indonesia,” jelas Pilarmas.
Sentimen Eksternal Juga Berpengaruh
Dari sisi eksternal, Pilarmas melaporkan bahwa bursa regional Asia mayoritas bergerak melemah. Pasar global masih mencermati ketidakpastian yang timbul dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik semakin terasa dengan penegasan Presiden AS Donald Trump bahwa belum ada kesepakatan lanjutan dengan Iran. Situasi ini menjaga tingkat ketidakpastian geopolitik tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara luas.
Lebih lanjut, investor juga menantikan rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan Juli. Dokumen ini diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter AS ke depan. Sebelumnya, The Fed telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, meskipun terdapat perbedaan pendapat dari tiga pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga.
Pada sesi I perdagangan hari ini, beberapa saham yang mencatat kenaikan tertinggi antara lain TIFA, TRUS, BBLD, FUJI, dan SWID. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar meliputi TCPI, FAST, BAPI, BAJA, dan ASLI.
Menyambut sesi II perdagangan, Pilarmas merekomendasikan saham SCMA dengan peringkat beli (buy). “Dengan level support 200 dan resistance 230,” tutup Pilarmas dalam analisisnya.
Ikuti DailyFX.ID
