— JAKARTA – Bank investasi asal Eropa, UniCredit, memproyeksikan pergerakan harga emas akan menunjukkan tren kenaikan pada akhir tahun 2026. Proyeksi tersebut menempatkan harga emas di kisaran US$ 4.300 hingga US$ 5.000 per troy ounce.

Pergerakan harga emas dunia pada Jumat, 18 September 2026, tercatat menguat 0,84% ke level US$ 4.378,23 per ons troi. Meskipun menguat pekan lalu sebesar 0,75%, harga emas masih menunjukkan pelemahan 2,92% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini mencerminkan pemulihan yang belum merata sejak titik terendah pada September 2026.

Mengutip data dari Exchangerates.org.uk pada Senin, 21 September 2026, UniCredit mempertahankan pandangan yang netral hingga sedikit positif terhadap prospek harga emas, meskipun tren penurunan masih berlangsung. Emas tidak menghasilkan imbal hasil berupa bunga, sehingga kenaikan imbal hasil aset lain dapat meningkatkan potensi pendapatan yang dilewatkan investor saat memegang emas.

Kendati demikian, UniCredit berpendapat bahwa imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi memiliki implikasi yang bervariasi, tergantung pada faktor penyebabnya. “Namun, kurva yang semakin curam akibat defisit fiskal, kekhawatiran akan keberlanjutan utang, dan premi risiko jangka waktu (term premia) yang lebih tinggi justru dapat memberikan dukungan, terutama jika hal tersebut melemahkan kepercayaan terhadap dolar AS,” jelas bank asal Italia tersebut.

UniCredit menekankan bahwa kepercayaan terhadap keuangan pemerintah menjadi faktor kunci dalam perkiraan tersebut, di samping arah pergerakan suku bunga. “Menurut kami, hal ini menempatkan kepercayaan terhadap keuangan pemerintah sebagai faktor kunci dalam perkiraan tersebut, di samping arah pergerakan suku bunga,” paparnya.

Bank tersebut juga mengidentifikasi beberapa tren permintaan emas yang terus berlanjut, yang diyakini dapat mendukung kenaikan harga. “Pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, pemulihan arus masuk dana ke ETF, permintaan untuk diversifikasi portofolio, serta kekhawatiran mengenai terjaganya daya beli di tengah defisit fiskal yang besar dan peningkatan utang publik terus memberikan dukungan bagi harga emas,” ujar analis di UniCredit.