— JAKARTA – Lonjakan laba PT Timah Tbk (TINS) sepanjang tahun buku 2026 berpotensi berujung pada pembagian dividen yang lebih besar bagi para pemegang saham. Manajemen perusahaan berpeluang menaikkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio dibandingkan tahun buku 2025 yang sebesar 50%.

Investment Analyst Stockbit Group, Theodorus Melvin, melihat dividen dapat menjadi katalis positif berikutnya bagi emiten berkode saham TINS tersebut, terutama setelah kinerja laba bersih pada semester I-2026 melonjak signifikan. Dengan asumsi laba bersih sesuai konsensus pasar sebesar Rp 4,5 triliun, dividen TINS diperkirakan dapat mencapai Rp 305 hingga Rp 366 per saham.

Perhitungan ini mengacu pada asumsi rasio pembayaran dividen di kisaran 50%-60%. Apabila harga saham TINS berada di Rp 3.900 per saham, angka tersebut mengindikasikan imbal hasil dividen atau dividend yield sekitar 7,8%-9,4%.

“Meski demikian, keputusan akhir mengenai rasio pembayaran dividen tahun buku 2026 tetap berada di tangan pemegang saham,” tulis Melvin dalam catatannya, Selasa (18/8/2026).

Melvin menambahkan, setelah PT Timah merilis kinerja semester I-2026, estimasi konsensus laba bersih untuk tahun 2026 telah mengalami kenaikan dari Rp 3,9 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Meskipun ada kenaikan estimasi, angka tersebut dinilai masih relatif konservatif.

Untuk mencapai laba bersih Rp 4,5 triliun sepanjang 2026, PT Timah hanya perlu menghasilkan laba sekitar Rp 1,8 triliun pada semester II-2026. Jumlah ini sekitar 33% lebih rendah dibandingkan laba bersih yang telah dicapai pada semester I-2026 yang mencapai Rp 2,7 triliun.

Stockbit menilai PT Timah memiliki peluang besar untuk mencapai estimasi laba konsensus tersebut. Faktor penopangnya berasal dari volume produksi yang diperkirakan tidak akan mengalami penurunan, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) yang relatif stabil, prospek biaya yang membaik, serta kemampuan perseroan dalam menjaga margin laba selama tiga kuartal terakhir.

Kinerja kuat pada enam bulan pertama 2026 juga berpotensi membuat target internal perseroan direvisi. Laba bersih PT Timah sepanjang semester I-2026 telah mencapai 169% dari target internal tahun 2026 yang ditetapkan sekitar Rp 1,6 triliun. Manajemen kini tengah menyusun kembali panduan kinerja bersama pemegang saham. Jika tidak ada kendala berarti, hasil revisi tersebut akan disampaikan pada Agustus atau September 2026.

Stockbit mempertahankan pandangan positif terhadap PT Timah yang telah dipegang sejak kuartal IV-2025.

Tantangan dan Risiko

Dari sisi operasional, manajemen memberikan panduan volume penjualan pada kuartal III-2026 yang relatif sama dengan kuartal II-2026, yakni sekitar 4.975 ton. Kendala pasokan bijih masih menjadi salah satu faktor pembatas utama.

Kendala ini kemungkinan besar berkaitan dengan habisnya kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di wilayah Belitung. Saat ini, PT Timah tengah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penambahan RKAB di wilayah tersebut.

Tambahan volume produksi juga sangat bergantung pada peningkatan alat kerja. PT Timah tengah memproses empat unit kapal isap produksi yang diupayakan mulai beroperasi paling lambat pada kuartal IV-2026, serta pembukaan area tambang baru, terutama di Bangka Utara.

Stockbit memandang tambahan produksi pada semester II-2026 dari kenaikan RKAB Belitung dan beroperasinya empat kapal isap produksi sebagai faktor yang berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan.

Dari sisi biaya, manajemen memperkirakan cash cost atau biaya kas produksi akan mulai melandai pada semester II-2026. Kenaikan biaya kas pada kuartal II-2026 sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang turut meningkatkan imbal jasa mitra. Pemeliharaan smelter akibat masalah kompresor juga mendorong kenaikan biaya suku cadang.

Pada semester II-2026, manajemen tidak memperkirakan adanya pemeliharaan besar sehingga produksi berpotensi lebih stabil. Stockbit juga melihat penurunan harga BBM serta berkurangnya biaya suku cadang sebagai faktor positif bagi struktur biaya perusahaan.

Terkait Harga Patokan Mineral (HPM) untuk pembelian timah dari mitra, manajemen masih melakukan pemantauan dan belum memberikan banyak komentar mengenai dampaknya.

Di tengah prospek dividen yang membaik, Stockbit tetap mencatat sejumlah risiko. Konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 akan turun menjadi US$ 44.750 per ton dibandingkan harga spot saat ini yang berkisar US$ 55.770 per ton. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar memandang laba bersih PT Timah pada 2026 sebagai puncak siklus.

Risiko lainnya datang dari potensi kenaikan biaya akibat penerapan HPM maupun kenaikan royalti oleh Kementerian ESDM. Selain itu, aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mengharuskan 50% hasil ekspor ditempatkan di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) selama sekitar satu tahun sejak 1 Juni 2026 turut menjadi perhatian.

Aturan DHE tersebut membuat PT Timah kini meminta persetujuan pemegang saham untuk tambahan pendanaan, meskipun perseroan memiliki posisi kas bersih sebesar Rp 3,4 triliun.

Bagi Stockbit, katalis kenaikan kinerja PT Timah antara lain adalah tambahan produksi pada semester II, prospek biaya yang lebih rendah, dan kenaikan rasio pembayaran dividen di atas 50% untuk tahun buku 2026.