— JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) berhasil memperkuat posisinya dalam daftar Fortune Indonesia 100 2026, menempati peringkat ke-14. Peningkatan ini merupakan hasil dari transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan, serta penguatan efisiensi operasional.

Posisi tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan Pupuk Indonesia dari Rp 81,6 triliun pada 2024 menjadi Rp 90,4 triliun pada 2025 menjadi salah satu faktor utama di balik peningkatan peringkat ini.

Dengan capaian pendapatan tersebut, Pupuk Indonesia juga dinobatkan sebagai BUMN dengan pendapatan terbesar ke-8 dalam daftar Fortune Indonesia 100 2026. Di tingkat regional, posisi Pupuk Indonesia dalam Fortune Southeast Asia 500 2026 juga mengalami peningkatan, dari peringkat ke-69 menjadi ke-68.

Direktur Operasi Pupuk Indonesia, Dwi Satriyo Annurogo, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah cerminan penguatan fundamental perusahaan melalui transformasi yang dilakukan secara bersama dengan pemerintah dan koordinasi dengan Danantara Indonesia. “Ke depan, transformasi akan terus kami lanjutkan untuk membangun Pupuk Indonesia yang lebih efisien, agile, dan kompetitif,” ujar Dwi Satriyo dalam keterangan persnya, Minggu (20/9/2026).

Proses transformasi Pupuk Indonesia dilakukan secara menyeluruh dengan dukungan kebijakan pemerintah, termasuk Perpres No 6/2025 dan Perpres No 113/2025. Perpres No 6/2025 bertujuan menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi, sehingga distribusi menjadi lebih mudah, cepat, dan tepat sasaran.

Sebagai hasilnya, penyaluran pupuk bersubsidi pada 2025 tercatat mencapai 8.110.571 ton, meningkat 10,68% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Perpres Nomor 113 Tahun 2025 mengubah mekanisme subsidi pupuk dari skema cost-plus menjadi marked-to-market, serta menerapkan pembayaran bahan baku di muka.

Perubahan kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku saat dibutuhkan, sehingga pasokan pupuk kepada petani tetap terjaga. Efisiensi ini juga memberikan dampak positif bagi petani, terbukti dengan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20% sejak Oktober 2025.

Target Revitalisasi Delapan Pabrik

Penguatan efisiensi menjadi modal strategis bagi Pupuk Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri dalam jangka panjang. Perseroan menargetkan pembangunan dan peremajaan delapan pabrik dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Program revitalisasi pabrik ini difokuskan untuk meningkatkan efisiensi energi, kapasitas produksi, serta keandalan operasional pabrik. Salah satu proyek yang telah berhasil diselesaikan adalah Revamping Ammonia Pabrik-2 di Pupuk Kalimantan Timur, yang berhasil menurunkan konsumsi gas lebih dari 10% sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Selain memperkuat bisnis pupuk, Pupuk Indonesia juga aktif memperluas portofolio bisnisnya ke sektor industrial and specialty chemical. Ekspansi ini dilakukan melalui pembangunan pabrik soda ash dan rencana pengembangan pabrik metanol. Pengembangan bisnis tersebut bertujuan untuk menciptakan nilai tambah, mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis, serta memperkuat daya saing industri nasional.