DailyFX.ID — Ahli strategi menilai harga emas dunia telah mencapai titik di mana risiko penurunan semakin terbatas, sementara potensi kenaikan harga dalam jangka panjang terus menguat. Harga emas di pasar spot pada perdagangan Rabu (19/8/2026) ditutup melonjak 4,35% menjadi US$ 4.523,03 per troy ounce, level tertinggi sejak 29 Mei 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melejit 3,62% menjadi US$ 4.580,75 per troy ounce.
Kepala Strategi Ekuitas Global dan Aset Riil di Wells Fargo, Sameer Samana, mengungkapkan bahwa jika pasar memperhitungkan dua hingga tiga kali kenaikan suku bunga The Fed, maka harga emas sudah mencerminkan ekspektasi kenaikan tersebut. Setelah koreksi harga emas lebih dari 20% dari rekor tertinggi bulan Januari, investor mengalihkan fokus dari volatilitas jangka pendek dan mulai mengevaluasi profil risiko-imbal hasil logam mulia untuk jangka panjang.
Samana menambahkan bahwa terlepas dari pergerakan harga minyak yang tinggi atau The Fed menaikkan suku bunga, sebagian besar risiko tersebut sudah tercermin dalam harga emas saat ini. Ia berpendapat bahwa investor kini perlu mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Seberapa besar kemungkinan terjadinya kenaikan suku bunga lebih dari dua atau tiga kali? Inflasi saat ini tidak cukup parah hingga mengharuskan pengetatan kebijakan yang jauh lebih agresif.”
Meski demikian, ia mengakui bahwa gambaran teknikal pasar emas belum membaik dan memperingatkan bahwa tren koreksi belum sepenuhnya berakhir. “Sulit untuk mengatakan bahwa harga emas sudah mencapai titik terendahnya. Dalam jangka pendek, menurut saya masih ada risiko penurunan harga hingga ke level US$ 3.500,” ungkap dia. “Apakah harga emas bisa mencapai US$ 3.500 sebelum US$ 4.500? Bisa saja. Namun, kecuali Anda meyakini bahwa siklus jangka panjang tersebut telah berakhir, maka sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu saja sampai harga emas naik lebih tinggi,” imbuh Samana.
Ikuti DailyFX.ID
