— Harga batu bara dunia kembali menunjukkan tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Penguatan ini didorong oleh prospek permintaan listrik global yang tetap kuat, seiring dengan ketidakpastian pasokan energi akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Data perdagangan mencatat harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 bertahan di level US$ 129,75 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 mengalami kenaikan US$ 0,5 menjadi US$ 134,75 per ton, dan kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,2 menjadi US$ 137,1 per ton.

Di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak Agustus 2026 tercatat naik tipis US$ 0,05 menjadi US$ 123 per ton. Kontrak September 2026 menunjukkan lonjakan signifikan sebesar US$ 1,8 menjadi US$ 123,75 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 melesat US$ 1,3 menjadi US$ 125,75 per ton.

Meskipun instalasi turbin angin dan panel surya terus meningkat, batu bara masih menjadi sumber energi utama untuk pembangkit listrik di seluruh dunia. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara akan menghasilkan 10.974 terawatt-hours (TWh) listrik pada 2026. Angka ini menyumbang hampir sepertiga dari total produksi listrik dunia yang diperkirakan mencapai 33.313 TWh.

Kontribusi batu bara dalam produksi listrik global masih lebih besar dibandingkan sumber energi lain. Gas alam berada di urutan kedua dengan 6.976 TWh, diikuti oleh tenaga air (4.536 TWh), tenaga surya (3.289 TWh), tenaga angin (2.898 TWh), dan nuklir (2.871 TWh). Produksi listrik dari batu bara diproyeksikan hampir setara dengan gabungan gas alam dan tenaga air, serta sekitar 77% lebih tinggi dibandingkan gabungan tenaga angin dan surya.

Situasi ini menghadirkan tantangan bagi upaya transisi energi global. IEA memperkirakan energi terbarukan secara keseluruhan akan melampaui batu bara dalam produksi listrik pada 2026 untuk pertama kalinya. Namun, proyeksi ini merupakan gabungan dari berbagai sumber terbarukan seperti tenaga air, surya, angin, bioenergi, dan panas bumi. Secara individual, tidak ada satu pun sumber energi terbarukan yang diprediksi mendekati kontribusi batu bara.

Perang Iran Dorong Permintaan Batu Bara

Prospek batu bara tahun ini juga mendapatkan dorongan tak terduga dari perkembangan pasar gas global. Sebelumnya, IEA memprediksi penurunan pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara pada 2026, dengan proyeksi penurunan sebesar 1,3% tahun ini. Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan produksi energi terbarukan dan pergeseran dari batu bara ke gas alam di beberapa pasar.

Namun, konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran telah mengubah perkiraan tersebut. Gangguan dan ketidakpastian di pasar energi global memberikan tekanan pada pasokan dan harga gas alam. Kondisi ini berpotensi mendorong peningkatan kembali penggunaan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik di berbagai negara.

Perubahan dinamika pasar gas ini menjadi katalis tambahan bagi pasar batu bara, yang sebelumnya telah mengantisipasi pergeseran permintaan energi global menuju sumber yang lebih rendah emisi. Mengingat batu bara masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar secara individual, fluktuasi harga dan pasokan gas global akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah permintaan batu bara hingga akhir 2026.