DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Mata uang Garuda ditutup merosot 106 poin atau 0,60% ke posisi Rp 17.861 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di angka Rp 17.755 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari eksternal maupun internal.
Dari sisi eksternal, harapan mengenai pembukaan kembali jalur distribusi logistik energi di Selat Hormuz kembali menipis. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer yang baru-baru ini terjadi. “Hal ini memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Keduanya juga melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz; Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone),” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan datang. Pasar menanti data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada hari Rabu, dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis. Data ini diharapkan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Juli diperkirakan akan mengalami penurunan dari 3,5% menjadi 3,4% secara tahunan (YoY). Sementara itu, Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI), yang mengecualikan komponen bergejolak, diproyeksikan turun dari 2,6% menjadi 2,5% YoY.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan tajam rupiah juga terjadi di tengah kewaspadaan pasar terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus 2026. Perubahan penyeimbangan ulang (rebalancing) portofolio MSCI dijadwalkan mulai berlaku setelah 31 Agustus 2026.
Meskipun demikian, tekanan penurunan pada pasar sedikit tertahan oleh langkah positif dari Presiden Prabowo. Penunjukan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo dinilai dapat meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan di bank sentral. “Kendati demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan,” beber Ibrahim.
Ikuti DailyFX.ID
