— Nilai tukar rupiah (IDR) terpantau kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa siang, 11 Agustus 2026. Berdasarkan data pasar spot exchange pada pukul 13.15 WIB, rupiah melemah 78 poin atau 0,44% ke posisi Rp 17.833 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari pembukaan perdagangan pagi hari yang tercatat melemah 41 poin (0,23%) ke level Rp 17.796 per dolar AS.

Pergerakan rupiah terjadi sehari setelah penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Penunjukan ini disampaikan melalui Surat Presiden (Surpres) yang telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk mengisi posisi kepala bank sentral. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, rupiah sempat menunjukkan penguatan signifikan sebesar 142 poin (0,79%) ke level Rp 17.755 per dolar AS.

Meskipun pasar mata uang masih bergerak fluktuatif, Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpeluang kembali menguat. “Mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi menguat di rentang Rp 17.700 – Rp 17.750 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Senin, 10 Agustus 2026.

Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada distribusi energi global di Selat Hormuz menjadi perhatian. Kelancaran arus perlintasan distribusi minyak di Selat Hormuz berpotensi menjaga stabilitas harga minyak dunia, yang pada gilirannya dapat meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi Amerika Serikat. Hal ini memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk menahan suku bunga.

Sementara itu, dari sisi internal, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat. Namun, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya pelemahan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada Juli 2026 yang tercatat di angka 116,8, lebih rendah dibandingkan 117,8 pada Juni 2026.