— JAKARTA – Pemerintah Pakistan mengumumkan telah menggelar perundingan positif dan produktif dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dialog tingkat tinggi ini berfokus pada upaya meredakan ketegangan serta mencari jalan keluar dari konflik yang melanda antara Teheran dan Washington.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi menyampaikan, ia mendampingi Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, dalam pertemuan strategis tersebut di Teheran. “Marsekal Lapangan Syed Asim Munir dan saya mengadakan pertemuan yang sangat positif dan produktif dengan Presiden Iran,” tulis Naqvi melalui akun X resminya yang dikutip Sputnik, Selasa (25/8/2026).

Naqvi menjelaskan bahwa pembahasan berfokus pada dinamika konflik Iran-AS, eskalasi ketegangan di Timur Tengah, serta langkah-langkah konkrit yang perlu diambil kedua pihak untuk menghidupkan kembali Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad demi mencapai perdamaian komprehensif. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Pezeshkian menyampaikan pandangan serta kekhawatiran utama pemerintahannya. Pihak Pakistan berharap capaian signifikan dari dialog ini dapat membuka jalan bagi terciptanya stabilitas dan perdamaian yang langgeng di kawasan kawasan.

Konflik terbuka antara AS dan Iran sebelumnya mencuat setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu aksi balasan dari Iran. Meski kedua negara sempat menandatangani kesepakatan moratorium permusuhan di Islamabad pada pertengahan Juni 2026, gesekan militer sempat kembali terjadi sebelum akhirnya AS mengalihkan strateginya ke pengetatan tekanan ekonomi.

Peran diplomasi Pakistan menjadi sangat krusial di tengah memanasnya peta geopolitik Timur Tengah. Sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Iran sekaligus sekutunya di kawasan, Pakistan konsisten mengambil inisiatif penengah untuk mencegah eskalasi konflik terbuka yang berpotensi meluas. Pengaktifan kembali MoU Islamabad dipandang sebagai instrumen penting untuk memulihkan saluran komunikasi antara AS dan Iran. Langkah damai ini makin mendesak di tengah ancaman sanksi ekonomi sekunder dari AS serta potensi gangguan pada jalur perdagangan dan pasokan energi vital di kawasan Teluk.