— Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari Senin, 14 September 2026. Pelemahan rupiah terjadi menjelang pengumuman perombakan kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pada perdagangan sore hari, nilai tukar rupiah ditutup melemah 58 poin atau 0,33% ke level Rp 17.669 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.611 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh beragam sentimen eksternal. Rupiah melemah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb serta terhadap target-target energi utama Arab Saudi.

“Perkembangan ini menutup jalur pasokan minyak penting lainnya di Timur Tengah, terutama mengingat sebagian besar pengiriman minyak Arab Saudi yang biasanya melalui Hormuz telah dialihkan ke jalur Selat Bab el-Mandeb,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Ketegangan yang meluas di kawasan tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus US$ 100 per barel. Hal ini pada akhirnya dapat membuat inflasi Amerika Serikat sulit dikendalikan dan memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka ditutup menurun US$ 3,02 atau 2,81% menjadi US$ 104,61 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$ 2,43 atau 2,37% menjadi US$ 100,05 per barel.

“Selain itu, data inflasi bulan Agustus menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen inti sebesar 0,3% secara bulanan (tidak termasuk biaya pangan dan energi). Kenaikan tersebut memperkuat perkiraan bahwa The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pertemuan minggu ini,” jelas Ibrahim.