DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menarik perhatian investor asing. Pada perdagangan Selasa (11/8/2026), tercatat adanya aliran dana masuk bersih (net buy) sebesar Rp 176,55 miliar dari investor asing. Pergerakan ini berbanding terbalik dengan hari sebelumnya, Senin (10/8/2026), ketika investor asing membukukan jual bersih (net sell) senilai Rp 57,9 miliar di saham bank pelat merah ini.
Meskipun mencatatkan net buy yang cukup signifikan, saham BBRI sendiri ditutup stagnan di level Rp 3.090 pada Selasa kemarin. Sepanjang hari perdagangan, sebanyak 179,27 juta saham BBRI diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 26.965 kali, menghasilkan nilai transaksi total sebesar Rp 552,35 miliar.
Dalam sebulan terakhir, saham BBRI menunjukkan performa yang impresif dengan lonjakan mencapai 10,75%. Aliran dana asing masuk bersih dalam periode tersebut tercatat sebesar Rp 648,89 miliar. Broker Maybank Sekuritas menjadi pialang yang paling banyak membukukan net buy untuk investor asing di saham BBRI selama sebulan terakhir, dengan total Rp 962,8 miliar.
Selain pergerakan pasar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga telah melaporkan data pemegang saham per akhir Juli 2026. Laporan bulanan registrasi pemegang saham perseroan menunjukkan adanya peningkatan jumlah investor. Hingga akhir Juli 2026, tercatat ada 782.991 investor, bertambah 4.381 pihak dibandingkan akhir Juni 2026 yang berjumlah 778.610 investor.
Sementara itu, jumlah saham yang beredar bebas atau ‘free float’ mengalami sedikit penurunan menjadi 42,54%, dari sebelumnya yang berada di angka 42,57%. Perubahan kecil ini tidak secara signifikan mengubah gambaran kepemilikan saham.
Analisis Positif dari JP Morgan
Di tengah pergerakan pasar dan data internal, JP Morgan merilis pandangan positif terhadap saham BBRI. Lembaga riset ini merevisi naik (upgrade) rekomendasi saham BBRI menjadi ‘overweight’ dengan target harga moderat di Rp 3.400.
Dalam risetnya, JP Morgan menyoroti kekuatan bisnis BBRI di segmen kredit mikro yang berkontribusi besar terhadap profitabilitas perseroan. Meskipun sempat menghadapi tantangan terkait kualitas aset yang menghambat profitabilitas, JP Morgan melihat adanya perbaikan signifikan berkat program-program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah dan upaya perbaikan internal yang dilakukan bank.
JP Morgan memprediksi bahwa konsensus pasar akan segera melakukan revisi terhadap proyeksi kinerja keuangan BBRI. Valuasi saham BBRI yang masih dianggap murah menjadi katalis kuat untuk potensi reli saham ke depan. Target harga Rp 3.400 ditetapkan berdasarkan Price to Book Value (PBV) wajar sebesar 1,2 kali, dengan asumsi Return on Equity (ROE) 17,4%, risk-free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.
KB Valbury Pertahankan Rekomendasi ‘Buy’
Senada dengan JP Morgan, KB Valbury Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI. Lembaga riset ini menetapkan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 4.010, menggunakan model Gordon Growth Model (GGM).
Target harga tersebut setara dengan Price to Book Value (P/B) 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang sangat menarik, dengan P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang berada di 1,5 kali.
KB Valbury Sekuritas mengidentifikasi beberapa potensi katalis positif bagi saham BBRI. Di antaranya adalah pertumbuhan kredit yang diprediksi melampaui ekspektasi, disertai penyesuaian imbal hasil kredit secara moderat yang dapat mendorong Net Interest Margin (NIM) melebihi panduan 2026. Selain itu, potensi Cost of Credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, seiring membaiknya kualitas aset, akan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan laba BBRI di tahun 2026.
Potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga dinilai dapat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP). Namun, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai, seperti pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, dan kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar dari estimasi.
Sentimen negatif domestik yang berkelanjutan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi faktor risiko yang berpotensi menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.
Ikuti DailyFX.ID
