DailyFX.ID — Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan performa positif sepanjang semester I-2026. Peningkatan terlihat pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), pergerakan wisatawan nusantara (wisnus), realisasi investasi, hingga tingkat okupansi hotel.
Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, menjelaskan capaian ini merupakan hasil dari strategi adaptif yang dijalankan. Strategi tersebut meliputi penyesuaian pasar (market pivot), penguatan promosi di negara berpotensi tinggi, peningkatan mobilitas wisnus, serta pengembangan produk dan destinasi berkualitas.
“Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk dan destinasi yang semakin berkualitas,” ujar Menpar Widiyanti dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Menurut Widiyanti, kinerja positif ini menegaskan peran sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Sektor ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, memperluas peluang usaha, dan mendorong pembangunan daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah kunjungan wisman pada Januari-Juni 2026 mencapai 7,45 juta. Angka ini tumbuh 5,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kunjungan dari kawasan Asia lainnya melonjak hampir 10%, Asia Tenggara tumbuh 8,22%, dan Oseania naik 6,60%. Pertumbuhan ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan kunjungan wisman tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Selain jumlah kunjungan, kualitas aktivitas wisata juga meningkat. Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan naik 6,36% menjadi sekitar US$ 1.313. Kementerian Pariwisata menilai keberhasilan ini menunjukkan strategi diversifikasi pasar yang dijalankan bersama pemangku kepentingan berjalan efektif.
“Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah,” katanya.
Pergerakan wisatawan nusantara juga menjadi penopang utama pertumbuhan sektor pariwisata. Sepanjang semester I-2026, tercatat 630,41 juta perjalanan wisnus, meningkat 2,71% dibandingkan semester I-2025. Sementara itu, perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri mencapai 4,46 juta perjalanan, turun 2,40%, sehingga Indonesia membukukan surplus kunjungan sebesar 2,99 juta.
Dari sektor investasi, pariwisata mencatat realisasi sebesar Rp 39,68 triliun pada semester I-2026. Angka ini meningkat 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi investasi terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 12,19 triliun (tumbuh 37%) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 27,48 triliun (tumbuh 9,39%).
Peningkatan investasi ini, lanjut Widiyanti, tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas pariwisata, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi.
“Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi,” ujar Menpar.
Tingkat okupansi hotel juga mencerminkan peningkatan aktivitas pariwisata. Pada semester I-2026, tingkat okupansi hotel mencapai 48,20%, naik 2,48 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional. Pada triwulan II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%. Sektor yang erat kaitannya dengan pariwisata memberikan kontribusi signifikan, seperti akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60%, transportasi dan pergudangan 5,65%, jasa perusahaan 5,08%, dan jasa lainnya 6,36%.
Secara keseluruhan, sektor-sektor tersebut menyumbang sekitar 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mendorong penyerapan tenaga kerja lebih dari 316.000 orang pada Februari-Mei 2026.
“Angka-angka tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus,” tandas Menpar Widi.
Ikuti DailyFX.ID
