— Fore Coffee, yang berada di bawah naungan PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), telah berkembang pesat dalam delapan tahun terakhir dengan membuka lebih dari 360 gerai di Indonesia dan Singapura. Perusahaan kini membeberkan strategi ekspansi yang menjadi pilar utama pertumbuhannya.

Menurut Direktur Strategi dan Pengembangan Korporasi PT Fore Kopi Indonesia, Fahmi Rachmattulah, data memegang peranan krusial dalam setiap keputusan strategis perusahaan. “Peran data dalam hal ini sangat besar, karena dalam menentukan lokasi ekspansi, kami sangat mengedepankan sejumlah indikator seperti traffic flow, density atau kepadatan pada suatu wilayah, demographic profile, fasilitas umum di sekitar lokasi, serta posisi strategis yang memengaruhi visibility dari potential store Fore,” ujar Fahmi, dikutip dari situs resmi Fore Coffee, Sabtu (26/9/2026).

Selain analisis data lokasi, performa gerai yang sudah beroperasi juga menjadi pertimbangan penting sebelum membuka gerai baru di area sekitarnya. Setiap kota yang menjadi target ekspansi memiliki target tersendiri, dan perusahaan juga memperhatikan periode pengembalian modal atau payback period setiap gerai agar tetap sesuai standar yang ditetapkan.

Untuk memastikan potensi lokasi gerai baru, Fore tidak hanya mengandalkan data, tetapi juga melakukan pengumpulan informasi dan evaluasi langsung di lapangan. Tim operasional yang nantinya akan menjalankan gerai sehari-hari dilibatkan dalam proses evaluasi ini untuk memverifikasi analisis dari tim business development.

“Saat berada di lokasi, tim operasional melakukan pengamatan langsung, menggali informasi dari pihak-pihak sekitar, melakukan observasi, serta penghitungan secara mandiri. Dari proses tersebut, mereka biasanya dapat menarik kesimpulan mengenai potensi lokasi tersebut,” jelas Fahmi.

Model Pengoperasian Bisnis Fore

Sebelum menjadi perusahaan publik, Fore pernah menerapkan sistem kemitraan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Melalui skema ini, mitra menyediakan modal, sementara Fore bertanggung jawab atas pembangunan dan operasional gerai, dengan pembagian hasil dari pendapatan (revenue) gerai.

“Pada saat itu, dibukanya kesempatan untuk menjalin kemitraan bersama Fore bertujuan untuk meningkatkan jumlah gerai melalui ekspansi yang progresif. Namun, melalui IPO, Fore dapat mengumpulkan kapital yang memadai dan memiliki lebih banyak opsi pendanaan dari perbankan maupun sumber lainnya. Karenanya kami menilai akan lebih strategis untuk melakukan ekspansi secara mandiri,” ungkap Fahmi.

Saat ini, Fore Coffee tidak lagi membuka skema kemitraan untuk pendanaan ekspansi gerai. Perusahaan memilih untuk mengelola operasional gerai secara langsung dan tidak menggunakan skema franchise. Hal ini memungkinkan Fore memiliki kendali yang lebih menyeluruh terhadap standar operasional dan kualitas di seluruh jaringan gerainya.

“Dengan mengelola dan mengoperasikan seluruh gerai secara mandiri, kami dapat menjaga kualitas dengan lebih baik, karena kualitas merupakan komitmen kami,” tegas Fahmi. Ia menambahkan bahwa aspek kualitas mencakup keseluruhan pengalaman pelanggan, mulai dari pelayanan, fasilitas, hingga produk yang disajikan.

Dengan kombinasi strategi berbasis data dan pengoperasian bisnis secara langsung, Fore terus memperkuat fondasi bisnisnya untuk mendukung pertumbuhan gerai yang berkelanjutan sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk dan layanan di seluruh jaringan gerainya.