— Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menunjukkan sinyal positif dan berpotensi memasuki fase pemulihan sentimen. Hal ini didorong oleh pengumuman perusahaan yang memperoleh tambahan kuota produksi sebesar 15 juta hingga 20 juta ton.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai kepastian tambahan kuota produksi ini menjadi katalis penting bagi pergerakan saham BYAN. Menurutnya, momentum ini sangat tepat karena pasar masih mencermati perubahan struktur kepemilikan saham Bayan Resources, terutama setelah masuknya Haji Isam sebagai pemegang 30% saham.

Kedua perkembangan tersebut, yaitu tambahan kuota produksi dan kejelasan struktur kepemilikan, dinilai dapat secara signifikan mengurangi ketidakpastian yang sebelumnya membayangi BYAN. “Tambahan kuota produksi ini mengurangi risiko operasional yang sempat memicu Moody’s memangkas outlook kredit BYAN menjadi negatif, sementara kejelasan struktur kepemilikan memberikan visibilitas jangka panjang terkait arah strategi perusahaan,” ujar Jason di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Jason menegaskan bahwa kepastian tambahan kuota produksi ini membuat BYAN memiliki prospek pasokan yang lebih jelas di tengah evaluasi revisi RKAB oleh Kementerian ESDM terhadap sekitar 50 perusahaan tambang lain. Dengan demikian, BYAN menjadi salah satu perusahaan yang lebih dahulu memperoleh kepastian dibandingkan kompetitornya, yang berpotensi menjadi katalis pemulihan sentimen kredit maupun saham.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody’s memang sempat memangkas outlook Bayan Resources menjadi negatif dari stabil pada pekan lalu. Namun, peringkat corporate family rating BYAN tetap dipertahankan pada level Ba1.

Dari sisi teknikal, Jason menyebut saham BYAN berpotensi membentuk golden cross MACD pada perdagangan harian. Sinyal ini membuka peluang pergerakan menuju target harga Rp 15.000. Namun, potensi tersebut sangat bergantung pada kemampuan saham BYAN mempertahankan level Rp 12.500 sebagai batas stop loss.

Sebelumnya, Bayan Resources mengumumkan rencana pengalihan kepemilikan saham sebanyak 10.000.000.500 saham biasa atau setara 30% kepada PT Jhonlin Baratama (JB). Perusahaan ini berada di bawah Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.

Rencana transaksi ini didasarkan pada Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang ditandatangani oleh Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026. PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan bermula dari aktivitas bisnis pertambangan di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Sebagai informasi, Bayan Resources merupakan produsen batu bara termal terbesar ketiga di Indonesia berdasarkan volume produksi dan salah satu perusahaan batu bara dengan operasi paling terintegrasi di Asia Tenggara.