— JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengalami tren penurunan pamor yang ditandai dengan arus keluar modal asing (outflow) yang signifikan. Investor cenderung meninggalkan bursa saham dan beralih ke instrumen obligasi yang dinilai lebih bebas risiko, terutama seiring dengan pergerakan imbal hasil (yield) US Treasury yang terus mengarah ke level tertinggi.

Saat ini, yield US Treasury tenor menengah 5 tahun kembali menembus level 5%, sebuah rekor yang terakhir kali dicapai pada Agustus 2007. Yield tertinggi saat itu mencapai 5,094%, sebelum bergerak stagnan di bawah 5% selama hampir dua dekade. Tren serupa juga terlihat pada tenor 10 tahun yang sempat menembus 5,2%, dan tenor 30 tahun yang mendekati 5,5%.

Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat ini mendorong investor untuk bersikap ‘risk off’ atau menghindari risiko terhadap pasar saham domestik. Mereka memilih untuk mengalihkan investasi ke surat utang. Data Kementerian Keuangan melalui APBN Kita menunjukkan bahwa Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dengan yield 7,17% menjadi instrumen yang paling stabil. SBN mencatatkan arus masuk modal (inflow) sebesar Rp40,8 triliun sepanjang tahun 2026, dan Rp33,8 triliun pada kuartal III hingga 10 September 2026.

Instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membukukan inflow sebesar Rp171,6 triliun secara year-to-date (ytd). Pada lelang SRBI per 25 September 2026, yield rata-rata tertimbang untuk tenor 6 bulan berada di 6,75%, 6,78% untuk tenor 9 bulan, dan 6,86% untuk tenor 12 bulan. BI berhasil memenangkan Rp15 triliun dari total penawaran Rp64,11 triliun. Meskipun demikian, pada kuartal III hingga 10 September 2026, SRBI mencatat outflow sebesar Rp7,6 triliun.

Hasil penjualan sukuk ritel (SR) seri SR025 juga mencetak rekor dengan total Rp29,77 triliun. Seri SR025T3 untuk tenor 3 tahun meraih Rp24,93 triliun, sementara seri SR025T5 untuk tenor 5 tahun mengumpulkan Rp4,83 triliun. Imbal hasil untuk tenor 3 tahun ditetapkan sebesar 6,80% dan 6,90% untuk tenor 5 tahun.

Nasib berbeda dialami pasar saham. Secara ytd, bursa saham mencatatkan outflow sebesar Rp70,7 triliun, menjadikannya instrumen paling negatif dibandingkan SBN, SRBI, dan SR. Meskipun memasuki kuartal III hingga 11 September 2026, pasar saham mulai kedatangan inflow sebesar Rp2,9 triliun, angka ini masih jauh dari cukup untuk menutupi outflow. Hingga penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), net sell berlanjut menjadi Rp77,51 triliun secara ytd.

Ketidakpastian MSCI

Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi membenarkan bahwa pamor pasar saham tengah meredup. Namun, ia menekankan bahwa ini bukan berarti pasar saham kehilangan daya tarik secara absolut. Kenaikan bunga tanpa risiko yang terlalu tinggi membuat ambang imbal hasil saham ikut terangkat.

“Dengan The Fed di 3,75-4,00% dan SBN 10 tahun sekitar 7% (imbal hasil riil sekitar 3,8%), investor bisa mendapatkan arus kas pasti tanpa risiko harga. Saham harus menawarkan premi jauh lebih besar, dan di tengah ketidakpastian MSCI November premi itu belum terbukti,” ujar Wafi kepada Investor Daily, Jumat (25/9/2026). Hal ini terbukti dari arah dana, di mana SBN dan SRBI menerima arus masuk lebih dulu dibandingkan saham dan SR025 yang mencetak rekor.

Wafi mengidentifikasi empat pemicu yang dapat menggairahkan kembali pamor pasar saham. Pertama, hasil MSCI pada November mendatang yang akan menentukan apakah net sell asing berlanjut atau berbalik. Kedua, sinyal The Fed menghentikan pengetatan suku bunga, yang dapat menghentikan kenaikan yield dan penguatan dolar. Ketiga, stabilnya nilai tukar rupiah selama dua hingga tiga bulan ke depan. “Sebab, selama kurs bergerak liar, imbal hasil dalam dolar pun tetap tidak menarik meski harganya murah,” jelasnya.

Pemicu terakhir adalah laba kuartalan yang konsisten, terutama dari sektor perbankan dan komoditas. Wafi menjagokan saham emiten yang labanya tidak bergantung pada penurunan suku bunga, seperti sektor komoditas yang berpendapatan dolar sebagai pelindung alami saat rupiah melemah. Contohnya adalah ADRO, PTBA, dan ANTM. Sektor perbankan seperti BBCA dan BMRI, yang memiliki CASA dominan dan tahan terhadap biaya dana tinggi, serta sektor konsumer pokok defensif seperti INDF, juga direkomendasikan.

Rekomendasi Saham dan Strategi Investor

Wafi merekomendasikan akumulasi saham ADRO dengan target harga Rp2.630-2.800, buy PTBA dengan target harga Rp3.100, akumulasi ANTM dengan target harga Rp3.880-4.250, serta akumulasi BBCA dan BMRI dengan target harga Rp8.700-10.500 untuk BBCA dan Rp5.800 untuk BMRI. Saham INDF juga direkomendasikan dengan target harga Rp6.500.

Sementara itu, Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyarankan investor untuk menghindari saham properti, konstruksi, dan infrastruktur yang highly leveraged. Kenaikan yield dapat meningkatkan cost of capital, memperberat beban bunga, dan menekan valuasi berbasis Discounted Cash Flow (DCF).

Investor juga disarankan untuk sementara menghindari saham dengan valuasi tinggi namun earnings visibility rendah. Ketika discount rate naik, valuation compression akan lebih terasa pada saham dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi namun arus kas atau profitabilitasnya belum kuat.

Nafan memfavoritkan saham-saham perbankan, meskipun belum menyebutkan nama spesifik. “Saya suka saham bank,” ujarnya. Keputusan ini didasari oleh suku bunga BI yang ditahan di level 5,75%, yang memberikan sentimen positif bagi sektor perbankan. Hal ini memberikan kepastian terhadap struktur biaya dana dan menjaga stabilitas margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Di sisi lain, kebijakan makroprudensial BI yang akomodatif, termasuk insentif likuiditas, membuka ruang bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit. “Dengan demikian, level suku bunga saat ini berpotensi menjadi katalis bagi saham big banks, terutama apabila diikuti oleh pertumbuhan kredit yang sehat, perbaikan kualitas aset, serta stabilisasi cost of fund,” tandasnya.