DailyFX.ID — Perubahan signifikan terjadi pada perilaku konsumen akibat tekanan daya beli yang kian terasa. Masyarakat kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana, memilih untuk menahan pembelian barang di luar kebutuhan pokok sampai ada penawaran menarik seperti diskon, cashback, atau program promosi lainnya.
Menurut Pengamat Ekonomi sekaligus Dewan Penasihat KADIN Jawa Timur, Jamhadi, kondisi ekonomi saat ini mendorong konsumen menerapkan strategi belanja yang lebih pragmatis, terencana, dan sangat sensitif terhadap harga. Ia menjelaskan bahwa masyarakat belum sepenuhnya kehilangan daya beli, namun porsi pendapatan yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan di luar pokok atau pendapatan diskresioner semakin menyempit.
Akibatnya, konsumen memprioritaskan kebutuhan sehari-hari dan menunda pembelian barang lain. “Masyarakat sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangan daya beli, melainkan mengalami penurunan porsi pendapatan diskresioner. Akibat keterbatasan ini, konsumen mengadopsi pola wait and see. Mereka menahan transaksi non-esensial sampai muncul insentif harga (promo/diskon) yang dianggap sepadan dengan nilai uang mereka (value for money),” ungkap Jamhadi.
Pola belanja yang menunggu diskon ini berdampak pada jumlah dan nilai transaksi. Rata-rata nilai setiap transaksi cenderung mengecil karena konsumen membeli dalam jumlah lebih sedikit atau mengurangi barang pelengkap. Pembelian impulsif pun dilaporkan menurun tajam, sementara frekuensi belanja barang non-pokok cenderung tertahan di level moderat.
Diskon Jadi Pemicu Transaksi
Jamhadi menilai bahwa diskon, cashback, cicilan, dan berbagai program promosi lainnya kini menjadi faktor dominan yang memengaruhi keputusan konsumen berbelanja. Promosi berperan sebagai stimulus atau pemicu utama keputusan pembelian. Diskon langsung dan cashback disebut mampu meningkatkan volume transaksi harian sekitar 20%–50% selama periode kampanye seperti Harbolnas atau payday sale.
Sementara itu, skema cicilan 0% dan Buy Now Pay Later (BNPL) menjadi penopang penting untuk pembelian barang bernilai lebih tinggi seperti elektronik, gawai, dan furnitur. Fasilitas ini membantu konsumen menjaga arus kas bulanan mereka.
Tekanan daya beli juga memicu perubahan preferensi merek. Jamhadi mengamati adanya tren down trading atau brand switching yang masif. Konsumen beralih dari merek premium ke merek kelas menengah, private label, atau produk lokal yang dinilai memiliki kualitas setara namun dengan harga lebih terjangkau. “Terjadi tren down trading atau brand switching secara masif. Konsumen beralih dari merek premium ke merek mid-tier, private label (merek internal ritel), atau produk lokal berkualitas setara yang harganya lebih ramah kantong demi menyesuaikan kemampuan finansial tanpa mengorbankan fungsi produk,” jelasnya.
Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap melakukan konsumsi, namun dengan pertimbangan nilai yang lebih cermat untuk setiap rupiah yang dikeluarkan. Jamhadi memperkirakan penghentian program promosi secara mendadak dapat kembali menekan volume transaksi karena sebagian besar konsumen kini menjadikan promo sebagai pertimbangan utama. “Pasar saat ini didominasi oleh promo driven consumers. Begitu stimulus harga hilang, konsumen kembali ke mode saving atau sekadar melakukan riset harga hingga skema promo berikutnya muncul,” tutupnya.
Ikuti DailyFX.ID
