DailyFX.ID — WASHINGTON – Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini, menyusul masih tingginya inflasi di Amerika Serikat dan harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel.
Bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan pada Rabu (16/09/2026) waktu setempat, setelah menyelesaikan pertemuan selama dua hari. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Kevin Warsh menjabat sebagai Gubernur The Fed pada Mei 2026.
Ekspektasi kenaikan suku bunga menguat setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Inflasi inti AS, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan pada Agustus. Kenaikan ini dinilai belum konsisten dengan target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tekanan inflasi juga datang dari harga minyak yang menembus US$100 per barel di tengah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut mempersempit ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga, terlebih Warsh berulang kali menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga.
Dalam pertemuan bankir sentral global di Jackson Hole bulan lalu, Warsh mengatakan ingin melihat inflasi bergerak menuju target 2% secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Namun, keputusan menaikkan suku bunga berpotensi menempatkan Warsh dalam posisi sulit secara politik.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memilih Warsh dengan ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga. Hingga kini, Trump belum menyalahkan Warsh karena pemangkasan belum dilakukan, tetapi ia beberapa kali mengkritik pejabat bank sentral lainnya. Potensi kenaikan suku bunga juga terjadi menjelang pemilu November, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Kongres.
Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed sebelumnya masih membuka peluang untuk mempertahankan suku bunga. Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller pada awal September meminta agar proses disinflasi diberi waktu, sementara Presiden The Fed New York John Williams mengatakan bank sentral masih perlu menunggu perkembangan data. Namun, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan kemudian memperkuat pandangan kelompok pejabat yang sejak Juli mendukung kenaikan suku bunga.
Ekonom JPMorgan Michael Feroli memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga, meski menurutnya keputusan tersebut masih cukup ketat dibandingkan probabilitas sekitar 85% yang tercermin di pasar berjangka. Menurut ia, kredibilitas The Fed dapat dipertanyakan jika peringatan keras Warsh mengenai inflasi tidak diikuti langkah kebijakan. “Pada akhirnya, peringatan keras ketua yang berulang kali soal inflasi berisiko merusak kredibilitas institusi jika tidak disertai tindakan,” ungkap Feroli, dikutip Reuters pada Senin (14/09/2026).
Ekonom TD Securities Oscar Munoz juga menilai Warsh bakal menghadapi tantangan dalam menjelaskan arah kebijakan berikutnya, terutama jika ia tetap menghindari pemberian panduan suku bunga secara eksplisit. “Warsh perlu sangat berhati-hati dalam pernyataannya jika masih ingin tidak memberikan panduan ke depan,” katanya.
Sementara itu, ekonom Scotiabank Derek Holt menilai kenaikan suku bunga bukan langkah ideal saat ini. Namun, ia memperkirakan The Fed tetap akan menaikkan bunga karena ekspektasi pasar sudah terbentuk kuat. “Warsh mungkin telah menyudutkan dirinya sendiri karena terlalu banyak memberi bobot pada pasar. Jika tidak menaikkan suku bunga ketika pasar sudah memperhitungkannya, lalu kapan?” ucap Holt.
Sejumlah analis juga memperkirakan The Fed dapat memberi sinyal kenaikan lanjutan tahun ini apabila tekanan inflasi belum mereda. Ekonom EY-Parthenon Gregory Daco memperkirakan mayoritas pejabat The Fed akan mendukung kenaikan suku bunga. “Kami memperkirakan Waller dan Williams akan mendukung kenaikan suku bunga dengan alasan kecepatan proses disinflasi belum memuaskan,” imbuh Daco.
Ikuti DailyFX.ID
