— BANJARBARU – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda Kalimantan Selatan selama tiga bulan, tepatnya dari Juli hingga September, menimbulkan kekhawatiran mendalam. Kota Banjarbaru, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dikepung titik api dari berbagai arah.

Kebakaran meluas di beberapa kawasan strategis, termasuk Kecamatan Landasan Ulin yang mencakup area ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, meliputi Kelurahan Syamsudin Noor dan Kelurahan Guntung Payung. Api juga membakar kawasan Kecamatan Liang Anggang, membentang dari wilayah Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan hingga kawasan hutan lindung Liang Anggang. Situasi semakin memburuk akibat asap kiriman dari daerah tetangga seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala.

Hingga pertengahan September, kualitas udara di ibu kota Kalsel belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Pekatnya asap memaksa warga menghirup udara tidak sehat sepanjang hari. Kondisi terparah terjadi sejak dini hari hingga pagi hari, dan baru sedikit terurai saat matahari terik memuncak pada siang hari.

Personel Manggala Agni berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Pemerintah mengerahkan sebanyak 12.880 personel gabungan dari unsur pemerintah dan masyarakat di tiga provinsi prioritas yaitu Kalimantan Barat sebanyak 1.410 personel, Kalimantan Tengah 10.700 personel dan 770 personel di Kalimantan Selatan untuk menangani karhutla di wilayah Kalimantan.

Aktivitas Warga dan Penerbangan Terganggu

Tingginya paparan asap memicu risiko gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga iritasi mata. Hal ini memaksa sebagian warga menghentikan aktivitas di luar ruangan.

Fitrianyah (31), warga Jalan Kasturi 2 Kelurahan Syamsudin Noor, mengaku terpaksa menghentikan kebiasaan joging pagi sejak Agustus karena pekatnya asap. Menurutnya, berolahraga di tengah kualitas udara buruk justru membahayakan kesehatan tubuh.

Hal senada disampaikan Nur Laila (41), warga Jalan Kurnia, yang memilih berhenti bersepeda pada akhir pekan demi menghindari paparan racun asap. Udara bersih kini menjadi hal yang sangat dirindukan oleh 285.546 jiwa penduduk “Kota Idaman” tersebut.

Dampak karhutla juga melumpuhkan sektor transportasi udara. PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) beberapa kali membatalkan atau menunda jadwal penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor akibat penurunan jarak pandang (visibility) di runway.

Hayati (27), salah seorang penumpang rutin rute Banjarbaru–Surabaya, menuturkan bahwa penerbangan pagi pukul 06.30 WITA kerap tertunda karena area bandara terselimuti kabut asap pekat. Meski terganggu, para calon penumpang umumnya memahami kondisi darurat tersebut.

Penanganan Intensif dan Penanggulangan Kesehatan

Menanggapi krisis yang berulang setiap musim kemarau ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama TNI, Polri, dan instansi terkait menetapkan area ring 1 bandara sebagai prioritas utama.

Pemadaman dilakukan secara masif melalui Satgas Darat serta operasi udara (water bombing) menggunakan helikopter milik BNPB. Kendati demikian, pemadaman masih menghadapi tantangan besar seiring bermunculannya titik-titik api baru yang terus meluas.

Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan (Dinkes Kalsel) mencatat bahwa situasi ini telah berkembang menjadi bencana kesehatan. Sebagai langkah siaga, Dinkes Kalsel mengaktifkan 127 rumah oksigen, dengan 38 unit berlokasi di Banjarbaru, sementara sisanya tersebar di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut.

Kepala Dinkes Kalsel Diauddin menjelaskan, layanan lapangan siaga karhutla telah menjangkau 46.347 jiwa melalui 90 titik kegiatan selama periode Juli hingga September. Selain mendistribusikan 115.300 lembar masker, pihak Dinkes juga memberikan edukasi dan layanan kesehatan di 54 sekolah, tiga kampus, dua pesantren, lima panti asuhan, serta lima pos lapangan karhutla.

Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap akibat karhutla berdampak pada terbatasnya jarak pandang bagi pengguna jalan nasional yang menjadi jalur penghubung Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Ancam Paru-Paru hingga Jantung

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syamsul Arifin menegaskan, bahaya kabut asap tidak boleh diremehkan. Asap karhutla mengandung racun partikel halus PM2.5 (berukuran kurang dari 2,5 mikrometer) yang ukurannya lebih dari 20 kali lebih kecil dibandingkan diameter helai rambut manusia.

“Saking kecilnya, PM2.5 tidak dapat tersaring oleh bulu hidung maupun lendir saluran napas. Partikel ini menembus hingga ke alveolus paru-paru dan masuk ke aliran darah, membawa gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan senyawa organik volatil (VOC). Dampaknya bervariasi, mulai dari iritasi ringan hingga memicu serangan jantung yang mengancam jiwa,” jelas Prof. Syamsul.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker standar dengan tingkat filtrasi tinggi (seperti N95 atau KN95) menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjaga keselamatan diri dan keluarga dari ancaman kabut asap.

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin melanda Banjarbaru dan wilayah Kalimantan Selatan setiap musim kemarau tidak terlepas dari struktur geologis serta dinamika tata guna lahan di kawasan tersebut. Sebagian besar wilayah terdampak di Banjarbaru, khususnya Kecamatan Liang Anggang dan Landasan Ulin, didominasi oleh ekosistem lahan gambut (peatland).

Petugas BPBD Kabupaten Banjar berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Pemerintah mengerahkan sebanyak 12.880 personel gabungan dari unsur pemerintah dan masyarakat di tiga provinsi prioritas yaitu Kalimantan Barat sebanyak 1.410 personel, Kalimantan Tengah 10.700 personel dan 770 personel di Kalimantan Selatan untuk menangani karhutla di wilayah Kalimantan.

Pada musim hujan, lahan gambut berfungsi sebagai penyerap air alami. Namun saat musim kemarau tiba, tinggi muka air tanah turun drastis sehingga lapisan gambut mengering dan berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar hingga ke lapisan dalam tanah. Kebakaran di lahan gambut amat sulit dipadamkan karena api kerap merambat di bawah permukaan (subsurface fire), yang terus menghasilkan asap tebal beracun meski permukaan atasnya tampak sudah padam.

Fenomena ini diperparah oleh praktik pembukaan lahan (land clearing) dengan cara dibakar yang masih kerap ditemui, serta laju pembangunan infrastruktur pasca-penetapan Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2022. Kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia ini menjadikan mitigasi karhutla di Banjarbaru sebagai tantangan ekologis dan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan lintas sektor secara berkelanjutan.