DailyFX.ID — JAKARTA – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa intelijen negaranya telah mendeteksi rencana Rusia untuk melancarkan serangan udara skala besar terbaru ke wilayah Ukraina. Pernyataan ini disampaikan Zelensky usai pertemuan di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Melalui saluran Telegram resminya, Zelensky menegaskan bahwa pemerintah Ukraina terus berkoordinasi intensif dengan para sekutu untuk mengamankan pasokan sistem pertahanan udara tambahan. Ia juga menolak keras wacana pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Rusia, menilai pembahasan penghentian atau pengurangan sanksi tidak relevan selama rakyat Ukraina masih menghadapi ancaman harian berupa gempuran rudal dan serangan pesawat nirawak.
Pasukan Rusia dilaporkan telah mengubah taktik penyerangan dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya serangan masif dilancarkan pada malam hari, kini rentetan gempuran dilakukan secara terus-menerus sepanjang hari. Selain perubahan pola waktu, Rusia mulai mengoperasikan pesawat nirawak berteknologi mesin jet yang mampu terbang lebih tinggi, berpotensi lolos dari jangkauan sistem pertahanan udara. Pola penyerangan ini menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas warga sipil, sektor bisnis, dan operasional pemerintahan.
Selama di New York, Zelensky juga bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas upaya penghentian konflik, termasuk kemungkinan kesepakatan gencatan senjata bilateral yang berfokus pada perlindungan fasilitas energi. Di garis depan pertempuran, pergerakan pasukan Rusia di wilayah Donetsk dilaporkan lambat dan tidak menunjukkan perubahan peta kekuatan yang signifikan. Sebagai balasan, pasukan Ukraina aktif melancarkan serangan udara menyasar fasilitas industri minyak di dalam wilayah Rusia hingga jarak 3.000 kilometer dari perbatasan.
Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Zelensky menilai Presiden Rusia Vladimir Putin berada dalam posisi tidak menang sekaligus tidak kalah mutlak, sehingga belum merasa terdesak untuk menginisiasi negosiasi damai. Ia menekankan bahwa situasi di medan perang tidak memberikan kemenangan bagi Rusia, namun Putin belum berniat menghentikan invasi karena tidak menganggap besarnya korban jiwa di pihak militer sebagai kekalahan, meskipun masyarakat Rusia menanggung dampak kemanusiaan yang besar.
Invasi Rusia ke Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun menjadi salah satu konflik bersenjata terbesar di Eropa modern. Meskipun garis depan pertempuran di timur stagnan, pola penyerangan terus berkembang melalui pemanfaatan teknologi militer baru seperti pesawat nirawak berkecepatan tinggi dan serangan rudal yang menyasar infrastruktur krusial. Pemerintah Ukraina secara konsisten menggalang dukungan internasional untuk memperkuat pertahanan udara serta mempertahankan tekanan sanksi ekonomi terhadap Rusia.
Ikuti DailyFX.ID
