— Vela Aero, melalui induk usahanya Vela Prima Nusantara, secara resmi memperkenalkan prototipe skala penuh pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL) yang diberi nama Vela Alpha. Peluncuran ini berlangsung di Cengkareng Heliport, Jakarta, pada Jumat (21/8/2026) dalam gelaran HEXIA 2026.

Menurut manajemen Vela Aero, peluncuran prototipe ini menandai langkah krusial dalam upaya mereka mengembangkan pesawat eVTOL perdana buatan Indonesia. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk membangun ekosistem Advanced Air Mobility (AAM) di tanah air.

“Vela Alpha dikembangkan melalui kemitraan strategis dengan Whitesky Aviation. Pesawat tersebut menggunakan konfigurasi Lift-and-Cruise, yang menggabungkan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal dengan penerbangan jelajah,” demikian pernyataan resmi manajemen Vela Aero yang dirilis Sabtu (22/8/2026).

Pesawat ini ditenagai oleh delapan motor penggerak vertikal (lift) dan satu motor pendorong (pusher). Desain Vela Alpha dirancang untuk dapat mengakomodasi satu pilot dan hingga enam penumpang.

Berdasarkan spesifikasi target yang ditetapkan, Vela Alpha diproyeksikan memiliki jarak tempuh maksimum mencapai 150 kilometer dalam mode eVTOL dan dapat diperpanjang hingga 500 kilometer saat beroperasi dalam mode hVTOL (hybrid Vertical Take-Off and Landing). Kecepatan jelajah maksimum yang ditargetkan adalah 250 kilometer per jam, dengan ketinggian operasi optimal hingga 1.000 kaki.

Vela Aero menargetkan agar Vela Alpha dapat mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2029. Target ini dapat tercapai apabila seluruh tahapan pengembangan, pengujian, sertifikasi, persiapan produksi, serta persetujuan dari regulator dapat diselesaikan sesuai jadwal.

Pesawat Vela Alpha disiapkan sebagai platform multifungsi yang dapat melayani berbagai jenis kebutuhan. Cakupan penggunaannya meliputi layanan taksi udara di perkotaan, menghubungkan bandara dengan pusat kota, fungsi ambulans udara, pengiriman kargo dan medis, misi pemerintah dan khusus, pengembangan sektor pariwisata, hingga mobilitas korporasi.

Manajemen Vela Aero menekankan bahwa pengembangan eVTOL tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi pesawat itu sendiri. Keberhasilan komersialisasi juga sangat membutuhkan pembangunan ekosistem yang komprehensif. Ekosistem ini mencakup proses sertifikasi yang ketat, operasi penerbangan yang aman, ketersediaan infrastruktur pendukung, layanan pemeliharaan, pelatihan bagi pilot dan teknisi, pembentukan rantai pasok yang andal, skema pembiayaan yang memadai, hingga pengembangan pasar yang berkelanjutan.