DailyFX.ID — Pemerintah China mengonfirmasi rencana kunjungan kenegaraan Presiden China, Xi Jinping, ke Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung pada 23-25 September 2026. Pertemuan puncak dengan Presiden AS, Donald Trump, ini dipersiapkan untuk membangun hubungan bilateral yang konstruktif serta memperkuat stabilitas strategis antara kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa diplomasi tingkat kepala negara memegang peran krusial dalam memberikan arahan strategis bagi hubungan China dan AS. Kunjungan ini juga merupakan balasan atas lawatan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada Mei 2026.
Intensitas Diplomasi dan Pengelolaan Isu Perdagangan
Pertukaran kunjungan antar-pemimpin negara sebanyak dua kali dalam kurun waktu setengah tahun dinilai sebagai tonggak sejarah penting. Pemerintah China berharap momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas dialog, mengelola perbedaan secara tepat, serta memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan kemakmuran global.
Di tengah persiapan agenda bilateral tersebut, keamanan rantai pasok mineral strategis dan perdagangan internasional menjadi salah satu isu utama yang akan dibahas.
Guo Jiakun menegaskan, pemerintah China tetap berkomitmen menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan global. Namun, Beijing juga menekankan bahwa pembatasan ekspor barang berkegunaan ganda dilakukan secara ketat sesuai hukum yang berlaku, khususnya terhadap pengguna militer Jepang, demi mencegah risiko remiliterisasi di kawasan.
Kesepakatan Tata Kelola Risiko AI
Sebagai bagian dari persiapan panggung diplomasi puncak, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, telah menggelar perundingan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, di New York. Pertemuan yang didampingi oleh Wakil Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, tersebut menghasilkan kesepakatan pembentukan mekanisme khusus untuk membahas tata kelola kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pembentukan mekanisme ini ditujukan untuk mengelola berbagai risiko keamanan, seperti ancaman siber dari aktor non-negara hingga potensi penyalahgunaan teknologi AI dalam pengembangan senjata biologis. Sementara itu, pihak China memberikan perhatian utama pada pengawasan dan pengendalian pengembangan teknologi inti secara menyeluruh.
Hubungan antara AS dan China merupakan poros geopolitik serta ekonomi terbesar di dunia. Dinamika hubungan kedua negara kerap diwarnai persaingan di bidang perdagangan, industri teknologi tinggi seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan, hingga keamanan pasokan mineral strategis.
Kunjungan balasan Xi Jinping ke AS setelah pertemuan puncak di Beijing pada Mei 2026 mencerminkan komitmen kedua pihak untuk meredakan ketegangan ekonomi, mengelola risiko teknologi baru, serta menjaga stabilitas pasar global.
Ikuti DailyFX.ID
