— Pertumbuhan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka sumber pendapatan baru bagi operator telekomunikasi di Asia Tenggara. Kebutuhan untuk menghubungkan pusat data, klaster GPU, dan fasilitas komputasi AI mendorong permintaan terhadap jaringan berkapasitas tinggi, berlatensi rendah, serta lebih fleksibel.

Perubahan ini membuat perusahaan telekomunikasi tidak lagi hanya mengandalkan bisnis konektivitas konvensional. Operator mulai memiliki peluang untuk masuk lebih jauh ke bisnis penyediaan infrastruktur khusus bagi pusat data, perusahaan teknologi, hingga penyedia layanan komputasi AI.

Hal tersebut mengemuka dalam “Ciena Virtual Roundtable – Neoscalers in Southeast Asia” yang menghadirkan Senior Advisor Marketing Intelligence Ciena Francisco Sant’Anna, Regional Managing Director for ASEAN, Hong Kong and Taiwan Ciena Alex Wong, serta Vice President International Sales TM Global Baharul Nizam Said Daliman.

Dalam diskusi tersebut disebutkan bahwa investasi infrastruktur AI secara global diproyeksikan melampaui US$1 triliun pada 2026. Besarnya investasi ini diperkirakan ikut meningkatkan kebutuhan jaringan optik berkapasitas tinggi.

Berdasarkan Wave Services Report Ciena, pendapatan global dari layanan konektivitas optik berkapasitas tinggi diproyeksikan tumbuh rata-rata 18% per tahun. Asia Tenggara diperkirakan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni sekitar 22% secara tahunan atau compound annual growth rate (CAGR).

Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari meningkatnya permintaan layanan konektivitas 100G, 200G hingga 400G ke atas untuk menghubungkan pusat data dan klaster graphics processing unit (GPU). Kondisi ini membuka peluang bagi operator telekomunikasi untuk memperoleh pendapatan tidak hanya dari peningkatan volume trafik, tetapi juga dari layanan konektivitas bernilai lebih tinggi.

Regional Managing Director for ASEAN, Hong Kong and Taiwan Ciena Alex Wong mengatakan kebutuhan jaringan untuk infrastruktur AI berbeda dari jaringan telekomunikasi konvensional. “Para pemain infrastruktur AI merancang jaringan untuk pemrosesan paralel berskala besar dan pergerakan data secara terus-menerus. Hal ini memerlukan pola pikir yang jauh lebih berorientasi pada kapasitas, performa, dan kecepatan time-to-market,” ujarnya.

Menurut Alex, operator yang mampu menyediakan kapasitas jaringan secara cepat dan dapat diprediksi memiliki peluang mengubah infrastruktur telekomunikasi menjadi keunggulan bisnis.

Lonjakan investasi infrastruktur AI diproyeksikan akan melampaui US$1 triliun secara global pada tahun 2026, sehingga menciptakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap konektivitas optik berkapasitas tinggi.

Inferensi AI Perluas Kebutuhan Jaringan

Peluang tersebut diklaim makin besar seiring perubahan penggunaan AI dari tahap pelatihan atau training menuju tahap inferensi. Pelatihan dilakukan ketika perusahaan membangun dan mengembangkan model AI. Sementara inferensi berlangsung ketika model tersebut digunakan untuk memberikan layanan secara langsung kepada pengguna.

Pada 2026, investasi global pada infrastruktur inferensi diperkirakan untuk pertama kalinya melampaui investasi pada pelatihan AI. Volume pemrosesan secara global juga diproyeksikan menembus 10 kuadriliun token per bulan pada kuartal II-2026.

Perubahan tersebut berpengaruh terhadap lokasi infrastruktur. Pelatihan AI masih dapat dilakukan secara terpusat, sedangkan inferensi membutuhkan fasilitas komputasi yang lebih dekat dengan pengguna untuk menjaga kecepatan respons.

Kebutuhan ini mendorong pembangunan pusat data dan fasilitas edge computing yang lebih tersebar di berbagai negara. Bagi operator telekomunikasi, penyebaran fasilitas komputasi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan konektivitas antarpusat data dan antarnegara di Asia Tenggara.

Neoscaler Jadi Pasar Baru

Perkembangan AI turut melahirkan kategori pelanggan baru bagi perusahaan telekomunikasi, yakni neoscaler. Neoscaler merupakan penyedia infrastruktur komputasi yang antara lain menawarkan layanan GPU sebagai layanan atau GPU-as-a-service. Berbeda dengan perusahaan hyperscaler yang memiliki sumber daya dan infrastruktur internal berskala besar, neoscaler umumnya memiliki organisasi lebih ramping dan lebih banyak menggunakan layanan infrastruktur dari mitra eksternal.

Dalam diskusi disebutkan salah satu neoscaler besar tengah memasok lebih dari 100.000 chipset GPU ke Asia. Karakter bisnis tersebut membuat neoscaler membutuhkan konektivitas yang dapat disediakan dalam waktu singkat serta kapasitas jaringan yang dapat disesuaikan mengikuti kebutuhan.

Kondisi ini membuka peluang bagi operator untuk menawarkan layanan terkelola dengan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan hanya menyewakan kapasitas jaringan.

Salah satu model yang mulai digunakan adalah Managed Optical Fiber Network (MOFN), yang memungkinkan operator menyediakan jaringan serat optik terkelola secara khusus untuk pelanggan. Model tersebut memungkinkan penyedia telekomunikasi mempertahankan hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang sekaligus memperoleh pendapatan dari pengelolaan infrastruktur.

Indonesia dan Malaysia Dilirik

Pertumbuhan infrastruktur AI juga mulai mengubah peta investasi pusat data di Asia Tenggara. Keterbatasan lahan dan pasokan listrik di Singapura mendorong perusahaan pusat data mencari lokasi ekspansi baru di kawasan.

Malaysia, khususnya Johor, serta Indonesia dinilai memiliki peluang menarik investasi karena ketersediaan lahan dan akses terhadap sumber energi.

TM Global, misalnya, memperluas fasilitas pusat data dengan konektivitas tinggi di Klang Valley dan Johor untuk mendukung beban kerja pelatihan maupun inferensi AI.

Vice President International Sales TM Global Baharul Nizam Said Daliman menilai posisi Asia Tenggara dalam industri digital global mulai berubah. “Asia Tenggara bukan lagi sekadar titik transit, tetapi dengan cepat berkembang menjadi hub utama AI global,” ujarnya.

Sementara Filipina memiliki posisi strategis sebagai salah satu titik pendaratan kabel bawah laut yang menghubungkan lalu lintas internasional dengan koridor pusat data di kawasan. Perkembangan tersebut berpotensi membentuk jaringan pusat data regional yang semakin terintegrasi antara Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Investasi Jaringan Ikut Meningkat

Lonjakan permintaan AI juga mendorong perusahaan telekomunikasi meningkatkan kapasitas jaringan. TM Global mencatat penggunaan kabel serat optik pada sejumlah implementasi meningkat dari sekitar 96 fiber core menjadi 384 fiber core untuk memenuhi kebutuhan trafik yang lebih besar.

Selain menambah kapasitas serat optik, operator juga mulai membutuhkan teknologi optik koheren hingga 800G agar dapat memindahkan data dalam jumlah besar secara lebih efisien.

Investasi juga dibutuhkan pada otomatisasi jaringan sehingga kapasitas dapat diaktifkan dan dialihkan dengan cepat sesuai kebutuhan pelanggan.

Teknologi AI sendiri mulai digunakan untuk mengelola jaringan, antara lain melalui pemeliharaan prediktif, deteksi gangguan, dan optimalisasi performa. Sementara itu, kebutuhan pemrosesan paralel GPU mendorong operator mengembangkan jaringan dengan latensi lebih rendah.

Senior Advisor Marketing Intelligence Ciena Francisco Sant’Anna menilai kebutuhan menjaga data tetap berada di suatu negara atau kawasan juga dapat memperbesar peluang bisnis penyedia layanan regional. Menurut dia, pemerintah dan perusahaan semakin mempertimbangkan aspek kedaulatan data seiring AI menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi. “Terdapat tekanan yang sangat besar terkait kedaulatan data dan upaya menjaga data agar tetap berada di kawasan regional. AI merupakan infrastruktur krusial bagi perekonomian maupun pemerintah,” katanya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan AI tidak hanya menjadi peluang bagi perusahaan teknologi dan pusat data, tetapi juga menciptakan pasar baru bagi industri telekomunikasi. Operator yang mampu menyediakan kapasitas besar, otomatisasi, latensi rendah, serta konektivitas antarpusat data berpeluang mengambil bagian lebih besar dari pertumbuhan ekonomi digital dan investasi AI di Asia Tenggara.