— Institute Development of Economics and Finance (Indef) mencatat adanya peningkatan jumlah penduduk yang bekerja seiring dengan penurunan angka pengangguran. Namun, perkembangan ini belum dapat sepenuhnya disamakan dengan realisasi target penciptaan 19 juta lapangan kerja.

Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa sebagian tambahan pekerjaan masih berada di sektor informal, memiliki produktivitas yang relatif rendah, atau menawarkan jam kerja yang terbatas.

“Tambahan jumlah orang bekerja belum dapat langsung disamakan dengan realisasi target tersebut, karena sebagian pekerjaan masih informal, berproduktivitas rendah, atau memiliki jam kerja terbatas,” ungkap Rizal kepada B-Universe, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pasar kerja tidak hanya perlu dilihat dari bertambahnya jumlah orang yang bekerja. Aspek kualitas pekerjaan, termasuk status formal atau informal, produktivitas, serta kecukupan jam kerja, juga menjadi indikator penting.

Rizal juga menyoroti kinerja realisasi investasi menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto yang dinilai cukup positif. Kendati demikian, peningkatan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sebanding.

Rizal Taufikurahman menilai persoalan ini berkaitan dengan karakter investasi yang semakin banyak masuk ke sektor hilirisasi dan industri padat modal. Ia berpendapat bahwa besarnya nilai investasi tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan pekerjaan.

Investasi pada sektor padat modal cenderung membutuhkan penggunaan teknologi dan mesin yang lebih besar, sehingga kebutuhan tenaga kerja relatif lebih rendah dibandingkan nilai modal yang ditanamkan. Pola serupa juga terlihat di sektor manufaktur, di mana pertumbuhan produksi dan output industri dapat berlangsung kuat, namun penyerapan tenaga kerja tidak selalu meningkat dengan kecepatan yang sama.

Oleh karena itu, Rizal menekankan bahwa strategi investasi perlu menjaga keseimbangan antara pengembangan hilirisasi dan penguatan sektor-sektor yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menyerap tenaga kerja. Beberapa sektor yang dinilai penting antara lain manufaktur padat karya, agroindustri, elektronik, tekstil dan garmen, makanan dan minuman, serta penguatan rantai pasok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan adanya strategi tersebut, peningkatan investasi diharapkan tidak hanya tercermin dari besarnya nilai penanaman modal, tetapi juga dari perluasan kesempatan kerja dan penguatan basis industri domestik.

“Strategi investasi perlu lebih seimbang antara hilirisasi dengan penguatan manufaktur padat karya, agroindustri, elektronik, tekstil-garmen, makanan-minuman, serta rantai pasok UMKM,” pungkasnya.