— JAKARTA – Perdagangan saham dua emiten yang terafiliasi dengan Adaro Group menunjukkan tren berbeda dalam sepekan terakhir. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terpantau dilepas oleh investor asing, sementara saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) justru diburu.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (13/9/2026), investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) saham ADRO senilai Rp 112,8 miliar. Pelepasan saham ini terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 7-11 September 2026.

Sebaliknya, dalam periode yang sama, asing justru mencetak transaksi beli bersih (net buy) pada saham AADI sebesar Rp 380,9 miliar di pasar reguler. Perbedaan aksi investor asing ini menyoroti pandangan pasar yang berbeda terhadap kedua entitas.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), saham AADI tercatat terkoreksi 0,4% ke level Rp 12.225. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir, AADI berhasil melonjak 8,6% dan dalam sebulan terakhir membukukan kenaikan signifikan sebesar 33,2%. Kinerja secara year to date (ytd) juga impresif, dengan saham AADI melesat 75,2%.

Sementara itu, saham ADRO pada Jumat (11/9) ditutup melemah 1,1% ke posisi Rp 2.640. Dalam sepekan terakhir, ADRO mengalami penurunan 2,9%, namun dalam sebulan terakhir mencatat penguatan 4,3%. Secara ytd, ADRO telah menguat 45,8%.

Perbedaan fokus bisnis menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi persepsi investor. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) kini mengarahkan strateginya pada batu bara metalurgi, hilirisasi mineral, jasa pertambangan, serta pengembangan energi terbarukan. Sementara itu, Adaro Andalan Indonesia (AADI) tetap berfokus pada bisnis utama yaitu batu bara termal.

Garibaldi Thohir atau akrab disapa Boy Thohir, Christian Ariano Rachmat, Michael WP Soeryadjaya, dan Arini Saraswaty Subianto tercatat sebagai pemilik manfaat atau pengendali tingkat individu pada kedua emiten, baik AADI maupun ADRO.

Rekomendasi Saham ADRO

Pluang Maju Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.450 dalam horizon waktu 12 bulan. Target ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 30,6% dari posisi harga terakhir.

Rekomendasi ini didasarkan pada tiga faktor utama. Pertama, akselerasi kinerja perusahaan yang terus menunjukkan perbaikan. Kedua, valuasi sektor batu bara yang saat ini masih berada di bawah rata-rata historisnya, menawarkan potensi apresiasi. Ketiga, strategi diversifikasi pendapatan melalui bisnis aluminium yang mulai memberikan kontribusi positif menjelang akhir tahun, sehingga mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.

Selain itu, Pluang Maju Sekuritas juga melihat persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebagai katalis potensial. Revisi ini berpotensi menambah kuota produksi sebesar 10% hingga 12%. Faktor pendukung lainnya adalah kontribusi awal dari bisnis aluminium KAI serta normalisasi harga batu bara yang diprediksi tetap berada pada level tinggi.