— JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas moneter dengan mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada kestabilan, meskipun secara kumulatif telah menaikkan suku bunga acuan hingga 5,75%. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu pertimbangan utama BI dalam merumuskan kebijakan moneter dan mengelola likuiditas.

Menyikapi perkembangan ini, Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia melihat adanya tren penurunan tekanan inflasi yang kembali masuk dalam sasaran. Hal ini didukung oleh meredanya tekanan harga pangan dan minyak.

“Kami menilai, ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat masih terbatas, terutama dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk menjaga selisih suku bunga dan kepercayaan pasar,” ujar Fitri Lindawati, Head of Fixed Income AllianzGI dalam keterangan tertulisnya pada Senin, (24/08/2026).

Fitri menambahkan, investor disarankan untuk menerapkan strategi portofolio yang bersifat defensif namun tetap fleksibel dalam menghadapi kondisi pasar saat ini. Alokasi pada instrumen pasar uang dinilai masih menjadi pilihan yang menarik untuk melindungi portofolio dari volatilitas nilai tukar dan perubahan kondisi pasar.

“Dalam jangka pendek, kami melihat pendapatan dari kupon obligasi (carry) masih lebih menarik dibandingkan capital gain. Obligasi dengan tenor pendek menawarkan risk-adjusted return yang menarik, sementara menjaga posisi kas tetap penting untuk memberikan fleksibilitas dalam menambah eksposur risiko ketika terjadi dislokasi pasar dan muncul peluang investasi dengan valuasi yang lebih menarik,” lanjut Fitri.

Dalam pengelolaan portofolio obligasi, AllianzGI Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga eksposur durasi secara selektif. Investor disarankan untuk mempertahankan durasi pada posisi netral hingga sedikit lebih rendah dari posisi acuan. Hal ini dilakukan sembari menunggu peluang untuk menambah durasi ketika terjadi repricing yang memadai.

Di pasar global, AllianzGI mengamati dinamika pasar kredit yang terus berkembang seiring dengan peningkatan penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi besar atau hyperscalers. Dengan hampir USD 500 miliar obligasi dari perusahaan AI terbesar dan sekitar USD 100 miliar yang terkait dengan pusat data, segmen ini menjadi semakin signifikan di pasar kredit global. Pelebaran spread pasca aksi jual saham berbasis AI pada Juli dinilai membuka peluang untuk menambah eksposur secara selektif pada penerbit dengan fundamental kredit yang kuat.

“Kami tetap memiliki pandangan positif terhadap perusahaan teknologi besar (hyperscalers) terkemuka. Meskipun spread melebar akibat tingginya penerbitan obligasi dan tekanan teknikal di pasar, kami tetap melihat profil kredit yang tangguh, didukung oleh neraca yang kuat, model bisnis yang terdiversifikasi, serta ruang peningkatan peringkat kredit yang signifikan,” ujar Tim CIO AllianzGI dalam publikasi “Fixed Income Forward: August 2026”.

Untuk alokasi strategis, AllianzGI melihat adanya peluang pada aset spread berkualitas dengan tingkat imbal hasil keseluruhan (all-in yield) yang menarik, di mana kupon obligasi tetap menjadi sumber pendapatan yang kuat (carry). Selain itu, investment-grade floating-rate notes dinilai dapat menjadi penopang portofolio. Obligasi dengan imbal hasil tinggi juga berpotensi meningkatkan pendapatan portofolio sekaligus meredam volatilitas pasar saham.

Ke depan, investor global perlu memperhatikan beberapa faktor penting. Ini termasuk pergerakan yen Jepang yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar valuta asing, pertemuan para bankir sentral di Jackson Hole yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve, serta perkembangan di Selat Hormuz yang dapat meningkatkan risiko kenaikan harga minyak apabila ketegangan berkepanjangan.

Secara keseluruhan, AllianzGI tetap mengedepankan pendekatan berbasis fundamental, riset independen, selektivitas dalam pemilihan aset, serta manajemen risiko yang disiplin dalam menghadapi dinamika pasar kredit global.