DailyFX.ID — JAKARTA – Transmisi kenaikan suku bunga kredit terjadi secara cepat menyusul lonjakan BI-Rate sebesar 100 basis points (bps) pada Mei-Juni 2026. Sebaliknya, tren penurunan suku bunga kredit pada periode sebelumnya menunjukkan perlambatan signifikan.
Bank Indonesia (BI) memulai siklus kenaikan suku bunga acuan dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps pada Mei 2026, dari 4,75% menjadi 5,25%. Peningkatan berlanjut pada Juni 2026, di mana BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan menjadi 5,5%, dan kembali menambah 25 bps pada RDG Bulanan, sehingga totalnya mencapai 5,75%.
Dengan demikian, BI-Rate telah terakumulasi naik 100 bps dalam rentang Mei hingga Juni 2026. Setelah periode tersebut, BI mempertahankan BI-Rate stabil di level 5,75% selama Juli dan Agustus 2026.
Respons cepat dari sektor perbankan terlihat dari kenaikan suku bunga kredit. Data uang beredar (M2) per Minggu (23/8/2026) menunjukkan suku bunga kredit seketika melonjak 16 bps. Angka ini berubah dari posisi 8,70% pada April 2026, sebelum BI-Rate mulai naik, menjadi 8,86% pada Juli 2026. Kenaikan 16 bps ini terdistribusi masing-masing sebesar 9 bps pada Juni dan 7 bps pada Juli.
Pola ini sangat kontras dengan periode penurunan suku bunga acuan BI sebelumnya. Antara September 2024 hingga September 2025, BI-Rate diturunkan bertahap sebesar 150 bps, dari 6,25% menjadi 4,75%. Namun, pemangkasan bunga kredit oleh perbankan tidak secepat kenaikan yang terjadi baru-baru ini.
Perbankan membutuhkan waktu 13 bulan untuk menurunkan suku bunga kredit sebesar 17 bps sejak penurunan BI-Rate dimulai. Bahkan, suku bunga kredit sempat mencatat kenaikan beberapa basis poin di awal periode penurunan BI-Rate sebelum akhirnya bergerak turun secara konsisten. Secara total, rata-rata suku bunga kredit hanya berkurang 51 bps dalam kurun waktu 20 bulan (September 2024 hingga April 2026), meskipun BI-Rate telah turun 150 bps.
Meskipun terjadi peningkatan bunga kredit dalam beberapa bulan terakhir, penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Data M2 per Juli 2026 mencatat pertumbuhan kredit sebesar 13% secara tahunan (year on year/yoy), mencapai Rp 8.970,2 triliun.
Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh kredit investasi yang melonjak 23,1% yoy menjadi Rp 2.733,3 triliun. Kredit modal kerja juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 11,6% yoy, mencapai Rp 3.833,8 triliun. Sementara itu, kredit konsumsi mencatat pertumbuhan 5,3% yoy dengan total Rp 2.403,0 triliun.
Ikuti DailyFX.ID
