DailyFX.ID — Pasar Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan masih bergerak dalam fase wait and see hingga beberapa bulan ke depan. Imbal hasil (yield) SUN tenor 10 tahun diproyeksikan cenderung sideways dengan bias turun tipis, seiring fondasi ekonomi domestik yang relatif solid.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa kondisi domestik menjadi penopang pasar SUN. Hal ini terlihat dari inflasi Juli 2026 yang tercatat 2,88% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II-2026.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah BI melakukan kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni.
“Pasar SUN saat ini masih berada dalam fase wait and see, bukan euforia. Fondasi domestik cukup solid, tetapi ruang penurunan yield masih tertahan oleh faktor eksternal, terutama rupiah, US Treasury, harga minyak, dan risiko geopolitik,” kata Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (23/8/2026).
Yusuf mencatat yield SUN tenor 10 tahun yang sempat menembus 7,3% lebih pada Juli kini telah turun ke kisaran 6,96%-7,06%. Ia menambahkan bahwa untuk beberapa bulan ke depan yield SUN berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan turun tipis.
Permintaan domestik masih menjadi penopang, tercermin dari lelang SUN pada 18 Agustus yang menyerap Rp 34 triliun dari total penawaran yang masuk hampir Rp 85 triliun. “Namun, selama rupiah dan pasar global belum benar-benar stabil, investor masih akan meminta premi risiko,” ujarnya.
Yusuf mengatakan perhatian investor dalam waktu dekat akan tertuju pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 26 Agustus 2026 dengan target indikatif Rp 10 triliun.
Menurut dia, yield SUN berpeluang tetap stabil atau turun tipis apabila rupiah mampu bertahan dan yield US Treasury 10 tahun tidak kembali naik dari kisaran 4,70%-4,74%. “Kalau rupiah bertahan dan yield US Treasury 10 tahun tidak kembali naik dari sekitar 4,70 sampai 4,74%, yield SUN berpeluang stabil atau turun tipis,” jelas Yusuf.
Terkait asumsi yield SBN 10 tahun sebesar 6,9% dalam RAPBN 2027, Yusuf menilai angka tersebut masih realistis. Namun, angka itu perlu dipahami sebagai rata-rata tahunan untuk menghitung beban bunga, bukan target bahwa yield pasar harus berada tepat di level 6,9%.
Dari level yield saat ini, diperlukan penurunan sekitar 10-30 basis poin untuk mencapai kisaran tersebut. “Untuk asumsi SBN 10 tahun sebesar 6,9% dalam RAPBN 2027, angka itu sebaiknya dibaca sebagai rata-rata tahunan untuk menghitung beban bunga, bukan target bahwa yield pasar harus berada tepat di 6,9%,” kata Yusuf.
Ia mengatakan, pencapaian asumsi tersebut akan sangat bergantung pada tiga faktor. Pertama, pergerakan US Treasury yang lebih bersahabat. Kedua, rupiah yang bergerak mendekati asumsi APBN sebesar Rp 17.500 per dolar AS. Ketiga, penerbitan SBN yang tetap dapat diserap pasar tanpa meningkatkan premi risiko.
Dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar, kekuatan investor domestik akan menjadi semakin penting. “Kalau kondisi tersebut tidak terpenuhi, rata-rata yield 2027 lebih mungkin berada di sekitar 7,0 sampai 7,1%,” ungkapnya.
Yusuf menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% dan inflasi 2,88% memberikan fondasi yang cukup bagi yield SUN untuk tetap terkendali. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menghilangkan premi risiko. Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 antara lain ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06%, konsumsi pemerintah yang melonjak hampir 16%, serta investasi yang tumbuh 6,87%.
“Artinya ekonomi tetap tumbuh, tetapi peran belanja pemerintah cukup besar. Karena itu, pasar masih memperhatikan kebutuhan pembiayaan APBN, kualitas belanja, serta keberlanjutan defisit,” katanya.
Menurut Yusuf, ruang pelonggaran BI juga belum serta-merta menjadi katalis kuat bagi penurunan yield SUN tenor panjang. Jika BI mulai memangkas suku bunga, dampaknya kemungkinan lebih cepat terlihat pada tenor pendek karena lebih sensitif terhadap kebijakan moneter dan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Sementara tenor 10 tahun tetap sangat dipengaruhi oleh term premium, pergerakan US Treasury, nilai tukar, dan pasokan SBN,” jelasnya.
Sementara itu, untuk akhir 2026 hingga sepanjang 2027, Yusuf memperkirakan arah yield SUN akan ditentukan oleh kombinasi kebutuhan penerbitan SBN, kondisi fiskal, arus modal asing, pergerakan US Treasury, harga minyak, dan risiko geopolitik.
Jika faktor-faktor tersebut bergerak positif secara bersamaan, yield SUN tenor 10 tahun berpeluang turun ke kisaran 6,8%-7,0%. Dengan demikian, asumsi pemerintah sebesar 6,9% menjadi cukup masuk akal. Sebaliknya, jika rupiah kembali tertekan atau yield US Treasury meningkat signifikan, yield SUN masih berpotensi bertahan di atas 7%.
“6,9% bukan angka yang tidak realistis, tetapi lebih tepat dilihat sebagai asumsi rata-rata yang membutuhkan kondisi global dan domestik yang cukup kondusif,” pungkas Yusuf.
Ikuti DailyFX.ID
