— JAKARTA – Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), produsen mi instan legendaris Indomie, dinilai masih memiliki potensi untuk menguat. Peluang ini muncul meskipun kinerja laba bersih perseroan pada paruh pertama tahun 2026 terpengaruh oleh kerugian selisih kurs (valuta asing). Dengan dominasi bisnis mi instan, pertumbuhan pendapatan yang solid, serta strategi inovasi produk yang agresif, prospek kinerja emiten Grup Salim ini dipandang tetap terjaga hingga akhir tahun.

Tekanan pada laba ICBP di semester I-2026 sebagian besar disebabkan oleh faktor non-kas, yang berarti tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional fundamental perusahaan. Hal ini terbukti dari pendapatan perseroan yang masih mampu tumbuh 11,3% secara tahunan menjadi Rp41,86 triliun. Selain itu, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) juga mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi Rp9,15 triliun. Jika dampak fluktuasi nilai tukar dikesampingkan, laba bersih inti tercatat tumbuh 0,7% menjadi Rp5,40 triliun. Kondisi operasional yang tetap positif ini menjadi salah satu alasan mengapa saham ICBP masih menarik untuk dicermati oleh investor.

“Kami mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp10.360 per saham, yang mencerminkan P/E 2026 sebesar 16,2 kali,” ujar Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi dalam riset terbarunya, Selasa (11/8/2026).

Saat ini, menurut Akhmad, saham ICBP diperdagangkan pada rasio P/E 2026 sebesar 12,1 kali. Angka ini sedikit di atas level -2 standar deviasi, yaitu 10,3 kali. Pada penutupan perdagangan Selasa (11/8/2026), saham ICBP berada di posisi Rp7.575, menunjukkan pelemahan tipis 0,33% dari hari sebelumnya. Dengan target harga yang dipasang sebesar Rp10.360 per saham, saham emiten yang dijuluki Raja Mi Instan ini membuka potensi keuntungan sekitar 36,76%.

Akhmad memaparkan, sejumlah faktor dapat mendorong kenaikan saham ICBP. Di antaranya adalah potensi biaya bahan baku yang lebih rendah dari perkiraan, pertumbuhan volume penjualan yang lebih kuat, serta penyesuaian harga jual rata-rata (ASP) yang lebih baik dari ekspektasi. Faktor lain yang mendukung adalah nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang lebih menguntungkan, beban operasional yang lebih rendah, serta pemulihan konsumsi di luar rumah yang lebih cepat dari dugaan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga perlu mencermati potensi risiko penurunan kinerja. Risiko ini berasal dari daya beli konsumen yang melemah, volume penjualan yang tidak sesuai harapan, pertumbuhan ASP yang lebih lambat, serta kinerja EBIT yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, kenaikan biaya bahan baku yang dapat kembali menekan margin dan meningkatnya persaingan dari merek-merek pesaing juga menjadi perhatian.

Kinerja Operasional Solid

KB Valbury mengungkapkan bahwa laba bersih ICBP sebesar Rp5,40 triliun pada semester I-2026, yang turun 33% secara tahunan (year on year/yoy) akibat rugi bersih selisih kurs senilai Rp2,95 triliun, masih sesuai dengan proyeksi sekuritas tersebut. Realisasi laba ini telah mencapai 49,6% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas untuk tahun 2026. Angka tersebut relatif dekat dengan rata-rata historis sebesar 50,6% dan jauh melampaui konsensus pasar yang baru mencapai 41,5%.

Secara operasional, kinerja ICBP justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Pendapatan meningkat menjadi Rp41,86 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh penjualan mi instan yang melonjak 11,41% menjadi Rp31,16 triliun. Produk susu juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 15,3% menjadi Rp5,64 triliun. Sementara itu, kategori makanan bernutrisi menunjukkan pertumbuhan paling tinggi sebesar 16,4%, meskipun kontribusinya terhadap total pendapatan masih relatif kecil.

Segmen mi instan tetap menjadi tulang punggung bisnis ICBP, menyumbang 71,8% terhadap total penjualan konsolidasi. Dari sisi EBIT, kontribusinya bahkan mencapai 77,8%. Hal ini menunjukkan tingginya konsentrasi profitabilitas pada bisnis mi instan, namun di saat yang sama memberikan stabilitas karena kategori ini memiliki posisi pasar yang kuat dan cenderung defensif terhadap gejolak ekonomi.

Produk susu dan bumbu penyedap turut memberikan kontribusi positif, masing-masing sekitar 6% dan 4% terhadap total EBIT konsolidasi pada semester I-2026. Penjualan makanan ringan tumbuh 8,8% dan bumbu penyedap naik 5,8%. Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan di berbagai kategori ini mengindikasikan bahwa ICBP tidak hanya bergantung pada satu sumber pertumbuhan saja.

“Ke depan, volatilitas nilai tukar menjadi risiko utama pada semester II-2026. Namun, posisi merek yang kuat, inovasi produk yang agresif dengan 23 produk baru hingga saat ini, serta volume penjualan yang solid di seluruh segmen, berpotensi menjaga kinerja laba,” ujar Akhmad.

Inovasi Produk Agresif

Sepanjang paruh pertama tahun 2026, ICBP telah aktif meluncurkan inovasi produk. Perseroan merilis empat produk mi instan baru, terdiri dari tiga produk merek Indomie dan satu produk merek Sarimi. Selain itu, ICBP juga meluncurkan 19 produk baru melalui perluasan lini produk pada kategori susu, bumbu penyedap, makanan ringan, makanan bernutrisi, dan makanan khusus.

Strategi inovasi ini dinilai mampu memperkuat ekuitas merek sekaligus menjaga ketahanan permintaan di tengah kondisi konsumsi yang masih dinamis. Posisi ICBP diperkuat oleh lebih dari 30 merek yang tersebar di berbagai kategori produk. Portofolio ini mencakup mi instan, produk susu, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus, hingga minuman. Banyak dari merek-merek ini memegang pangsa pasar yang signifikan di Indonesia, dengan Indomie sebagai merek unggulan yang telah berhasil menembus pasar internasional.

“ICBP membukukan kinerja yang positif di paruh pertama tahun 2026 meski dihadapkan pada situasi pasar yang semakin dinamis. Di tengah situasi pasar yang masih penuh ketidakpastian, perseroan tetap waspada. Kami akan terus menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk menjaga profitabilitas dan arus kas,” kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP Anthoni Salim dalam keterangannya baru-baru ini.

Kekuatan ICBP juga ditopang oleh jaringan lebih dari 60 pabrik yang berlokasi di berbagai wilayah utama Indonesia, serta didukung oleh jaringan distribusi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Untuk memenuhi permintaan pasar internasional, perseroan memiliki lebih dari 20 fasilitas produksi mi instan yang beroperasi di Malaysia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Tenggara. Produk-produk ICBP kini telah menjangkau lebih dari 100 negara di seluruh dunia.