DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren penguatan terbatas pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Pada penutupan perdagangan Rabu (23 September 2026), IHSG berhasil ditutup menguat 97,8 poin atau 1,56% ke level 6.374, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan tertinggi sebesar 3,4%.
Berdasarkan analisis teknikal, Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan resistance berada di rentang 6.320 hingga 6.535.
Faktor Global yang Mempengaruhi Pasar
Pergerakan imbal hasil US Treasury yang terus mengalami penurunan menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Meskipun sempat terjadi penurunan pasca kenaikan suku bunga oleh The Fed, imbal hasil US Treasury 5 tahun kini terpantau naik di atas 5% untuk pertama kalinya sejak tahun 2007.
Kekhawatiran pelaku pasar tertuju pada volatilitas harga minyak, inflasi, tingkat suku bunga, serta peningkatan utang Amerika Serikat. Selain itu, tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum terselesaikan juga berpotensi memperpanjang durasi inflasi lebih dari perkiraan.
Para pelaku pasar juga mempertanyakan kemampuan inflasi untuk kembali ke target The Fed sebesar 2%, target yang belum tercapai selama lima tahun terakhir. Kekhawatiran ini tercermin dalam lelang obligasi yang diadakan Kementerian Keuangan Amerika Serikat, di mana imbal hasil yang diminta investor mencapai level tertinggi sejak tahun 2006.
Dengan kebutuhan utang pemerintah yang besar, Amerika Serikat terpaksa menyerap imbal hasil yang lebih tinggi. Lelang obligasi berdurasi 5 tahun ini tercatat sebagai lelang terburuk ketiga sejak 2018 dan 2022.
Pergerakan Imbal Hasil Obligasi
Imbal hasil US Treasury 10 tahun terus menunjukkan kenaikan hingga 5,13%, menandai kenaikan tujuh bulan berturut-turut, rekor terpanjang sejak 2011. Sementara itu, imbal hasil obligasi 30 tahun telah naik hingga 5,4%, atau 4 basis poin lebih tinggi dari level tertingginya sejak 2004.
Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan kekhawatiran bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury akan terus berlanjut, yang kemungkinan akan membutuhkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi untuk menurunkan inflasi.
Gubernur The Fed, Michael Barr, turut mengamini potensi ini dengan menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang belum menunjukkan penurunan signifikan.
Perbandingan Imbal Hasil Obligasi Domestik dan Global
Meskipun imbal hasil US Treasury dan obligasi global terus meningkat, imbal hasil obligasi domestik dinilai masih mampu dijaga berkat kepemilikan dalam negeri yang mencapai lebih dari 80%. Hal ini memungkinkan para pemangku kepentingan untuk menjaga volatilitas imbal hasil obligasi sesuai keinginan.
Namun, penyempitan spread antara imbal hasil US Treasury dan Surat Utang Negara (SUN) menjadi perhatian. Dengan peringkat BBB yang dimiliki Indonesia, memberikan imbal hasil obligasi yang jauh lebih rendah dikhawatirkan dapat mendorong capital outflow karena dianggap kurang menarik.
Para pemangku kepentingan berupaya mendorong imbal hasil obligasi hingga spread mencapai titik maksimum, yaitu selisih 2%. Meskipun imbal hasil obligasi saat ini berhasil turun di bawah 7,1%, potensi kenaikan imbal hasil SUN masih terbuka lebar dalam jangka waktu yang tidak lama.
Proyeksi Ekonomi Indonesia dari ADB
Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026-2027 di angka 5,2%. Namun, proyeksi inflasi mengalami kenaikan menjadi 3,3% pada 2026 dan 3% pada 2027, dari sebelumnya 3% dan 2,5%.
Untuk kawasan Asia berkembang dan Pasifik, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 5% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, didukung oleh investasi India dan ekspor teknologi dari Asia Tenggara. Pertumbuhan Asia Tenggara sendiri direvisi naik menjadi 4,7% pada 2026 dan 4,9% pada 2027.
ADB menyoroti risiko yang dapat mempengaruhi proyeksi ini, termasuk ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, fenomena El Nino, kondisi keuangan yang ketat, dan ketidakpastian perdagangan global.
Harga minyak diperkirakan akan berada di kisaran US$ 90 per barel pada 2026 dan US$ 78 per barel pada 2027, yang berpotensi menambah tekanan inflasi di Asia.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa proyeksi ADB menunjukkan fundamental pertumbuhan Indonesia yang masih relatif terjaga, meskipun lingkungan global semakin menantang. Proyeksi ini juga sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia (BI) mengenai PDB Indonesia pada 2026 yang berada di kisaran 5,2%-5,6%.
Kenaikan proyeksi inflasi menjadi perhatian karena dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dan menekan daya beli masyarakat. Risiko utama berasal dari kenaikan harga energi, ketegangan geopolitik, serta gangguan pasokan akibat El Nino. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi diprediksi tetap stabil, namun risiko inflasi menjadi tantangan yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia ke depan.
Rekomendasi Saham
Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan rekomendasi saham untuk trading pada Kamis (24 September 2026) yaitu DOOH, TINS, dan AMMN.
Ikuti DailyFX.ID
