DailyFX.ID — Harga emas sedang menikmati penguatan signifikan, mencatat kinerja bulanan terbaik sejak 1999 dan mendekati rekor tertinggi. Di tengah kenaikan ini, mantan bankir Felix Prehn membagikan pandangannya mengenai persepsi investor terhadap emas.
Menurut Prehn, emas lebih tepat diibaratkan sebagai asuransi untuk melindungi kekayaan saat terjadi guncangan ekonomi, bukan sebagai aset yang secara otomatis membuat seseorang kaya. “Saya selalu mengatakan emas tidak naik, dolar yang turun. Jadi emas melindungi kita, tetapi tidak benar-benar membuat kita kaya,” jelas Prehn.
Ia menambahkan bahwa pergerakan harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, termasuk inflasi, suku bunga, yield obligasi, nilai tukar dolar AS, dan kondisi geopolitik. Contohnya, pada awal tahun, perang Iran sempat mendorong kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan yield obligasi.
Situasi ini menyebabkan sebagian investor institusional beralih dari emas ke surat utang pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, menekan harga emas. Prehn mencatat bahwa banyak investor ritel belum sepenuhnya memahami karakter emas dan cara aset ini bergerak dalam siklus ekonomi, terbukti dari adanya investor yang mengalami kerugian karena membeli di harga puncak.
Emas Bukan Sekadar Cari Cuan
Kesalahan umum investor adalah memperlakukan emas seperti saham yang harus terus-menerus memberikan keuntungan. Padahal, fungsi utama emas adalah sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan terhadap risiko. Emas dapat dipegang dalam jangka sangat panjang karena nilainya tidak bergantung pada kinerja perusahaan atau manajemen.
Namun, ini berbeda dengan saham perusahaan tambang emas. “Anda tidak memegang saham perusahaan tambang selamanya. Anda bisa memegang emas atau bahkan perak selamanya. Jadi, keduanya merupakan aset yang sangat berbeda,” tegas Prehn.
Saat ini, perusahaan tambang emas mulai menikmati peningkatan arus kas seiring tingginya harga emas, dengan perusahaan seperti Newmont dan Agnico Eagle melaporkan arus kas bebas yang positif. Saham perusahaan tambang juga mulai mengejar reli emas, meskipun belum sepenuhnya pulih ke level tertinggi sebelumnya.
Prospek sektor pertambangan emas tidak hanya bergantung pada harga emas, tetapi juga pada lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membangun tambang baru, yang bisa memakan waktu lebih dari 15 tahun. Hal ini berpotensi memperpanjang siklus positif emas dan saham perusahaan tambang.
Investor Perlu Diversifikasi
Di tengah reli emas, Prehn mengingatkan investor mengenai risiko konsentrasi portofolio. Ia menyoroti bahwa banyak indeks saham saat ini sangat terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan teknologi besar, sehingga kepemilikan indeks saham saja belum tentu menjamin diversifikasi yang memadai.
Data menunjukkan bahwa sepuluh perusahaan terbesar dalam indeks S&P 500 kini mencakup porsi bobot yang signifikan dari indeks tersebut. Selain itu, saham masih mendominasi aset keuangan rumah tangga AS.
Prehn tidak memprediksi kehancuran pasar dalam waktu dekat, namun menekankan pentingnya investor memahami risiko konsentrasi dan menyiapkan portofolio sesuai dengan kebutuhan serta usia. Bagi investor lanjut usia, menjaga eksposur terhadap saham mungkin masih memungkinkan jika penurunan pasar tidak mengganggu kebutuhan hidup.
Sementara itu, investor dengan portofolio lebih kecil dapat mempertimbangkan penempatan dana pada surat utang pemerintah AS jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih rendah namun risiko yang lebih kecil. “Kas tidak netral. Kas terasa aman,” kata Prehn.
Ia menyimpulkan bahwa semakin cepat investor memahami cara kerja aset dan risiko portofolio, semakin banyak pilihan yang tersedia. “Semakin lambat Anda memahami hal ini dalam hidup, semakin sedikit pilihan yang Anda miliki. Semakin cepat Anda memahaminya, dan setiap lima tahun benar-benar membuat perbedaan besar,” tutup Prehn.
Ikuti DailyFX.ID
