— JAKARTA – Harga emas berpeluang melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (26/8/2026), dengan sasaran kenaikan terdekat berada di kisaran US$ 4.686 hingga US$ 4.700 per ons troi. Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat menguat tipis 0,07% ke level US$ 4.663,49 per ons troi.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pergerakan emas pada grafik satu jam (H1) masih menunjukkan momentum bullish. Hal ini terlihat dari adanya penolakan (rejection) di area support US$ 4.637 – 4.616.

Momentum kenaikan ini juga diperkuat oleh terbentuknya pola Bullish Engulfing. Pola ini mengindikasikan bahwa pembeli (buyer) telah kembali mengambil alih kendali pasar dalam jangka pendek.

“Rejection pada area support menunjukkan tekanan jual belum mampu membawa harga menembus zona tersebut secara berkelanjutan. Setelah itu, terbentuk pola Bullish Engulfing yang memperkuat indikasi perubahan momentum ke arah bullish,” ujar Geraldo dalam analisisnya, Rabu (26/8/2026).

Geraldo menambahkan, area US$ 4.686 – 4.700 per ons troi merupakan resistance penting yang berpotensi diuji apabila momentum penguatan emas mampu bertahan. Level ini akan menjadi penentu arah pergerakan harga selanjutnya.

Jika harga mampu menembus resistance tersebut dengan momentum yang kuat, peluang emas untuk membentuk level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan menembus area tersebut dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) dan koreksi jangka pendek.

“Karena itu, reaksi harga di sekitar US$ 4.686 – 4.700 per ons troi menjadi perhatian utama pelaku pasar untuk mengukur kekuatan tren bullish harga emas,” tegasnya.

Yield Obligasi Jadi Katalis

Dari sisi fundamental, Geraldo mengemukakan bahwa prospek emas masih mendapatkan dukungan dari pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

“Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi penurunan yield Treasury, yang menjadi salah satu faktor pendukung harga emas,” tambah Geraldo.

Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi lebih menarik ketika yield obligasi turun. Biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas berkurang, sehingga daya tarik logam mulia meningkat.

Lebih lanjut, Geraldo menegaskan bahwa harga emas masih berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Laporan Reuters menyebutkan harga emas spot berada di sekitar US$ 4.652,39 per ons troi pada Rabu, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi tiga bulan.

Pasar saat ini menantikan data inflasi Amerika Serikat serta perkembangan kebijakan The Fed yang dapat memengaruhi arah yield dan dolar AS.

Meskipun demikian, Geraldo mengingatkan adanya sejumlah faktor yang dapat membatasi kenaikan emas. Salah satunya adalah potensi meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Perkembangan positif terkait Selat Hormuz juga berpotensi mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, mengingat Iran dan Oman sebelumnya membahas kemungkinan pembukaan kembali jalur strategis tersebut.

“Jika ketegangan geopolitik semakin mereda dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, kebutuhan investor terhadap aset perlindungan seperti emas dapat berkurang. Kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena emas sebelumnya telah mengalami penguatan cukup signifikan,” pungkasnya.