DailyFX.ID — JAKARTA – PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memperkuat posisinya di sektor energi baru terbarukan (EBT) melalui akuisisi strategis. Melalui dua entitas anaknya, PT Arkora Tenaga Matahari (ATM) dan PT Arjuna Hidro (AJ), ARKO resmi mencaplok 100% saham PT Endorshine Energy Solutions (EES) pada 12 Agustus 2026.
EES merupakan perusahaan yang memiliki rekam jejak dalam instalasi dan pengerjaan proyek energi terbarukan, serta saat ini mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Batam dan Bintan. Akuisisi ini sejalan dengan fokus ARKO sebagai portofolio Grup Astra yang bergerak di bidang EBT.
“ATM dan AJ yang keduanya adalah anak usaha perseroan telah melakukan akuisisi atas 100% saham pada EES,” ungkap Sekretaris Perusahaan Arkora Hydro, Ricky Hartono, dalam pengumuman resmi kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa (25/8/2026).
Ricky menambahkan, perseroan telah mengumumkan transaksi akuisisi tersebut kepada Menteri Hukum (Menkum) RI dan telah menerima surat penerimaan perubahan data EES atau SP Menkum baru pada 24 Agustus 2026. Dengan diterbitkannya SP Menkum tersebut, transaksi akuisisi saham dinyatakan efektif, menjadikan EES sebagai anak usaha tidak langsung ARKO.
“Transaksi ini membawa dampak yang positif bagi kegiatan operasional, keuangan dan kelangsungan usaha perseroan,” imbuh Ricky. Transaksi akuisisi ini tidak termasuk dalam kategori transaksi material dan afiliasi, serta tidak memiliki benturan kepentingan sesuai POJK Nomor 17/POJK.4/2020.
Ekspansi Bisnis Energi Hijau
Sebelumnya, Head of Investor Relations Arkora Hydro, Nicko Yosafat, mengungkapkan optimisme perusahaan terhadap potensi pertumbuhan bisnis EBT. Ia menjelaskan bahwa listrik merupakan kebutuhan mendasar, sehingga ekspansi bisnis dengan mencari lokasi potensial untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terus dilakukan.
“Jadi, saat ini kami masih mencari sungai, mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan kontrak baru perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PLN dan itu masih terus kami lakukan dengan mencari titik sungai potensial. Lalu, kami membuat studi kelayakannya (feasibility study),” ujar Nicko.
Nicko memaparkan bahwa PT PLN (Persero) menjadi satu-satunya pembeli listrik produksi Arkora. Namun demikian, perusahaan tetap terbuka untuk menjajaki penjualan listrik kepada pihak lain. Ketergantungan pada PLN tidak menjadi kekhawatiran, mengingat statusnya sebagai BUMN dan satu-satunya perusahaan listrik di Indonesia.
“Ditambah lagi, kontrak jual beli listrik yang ditandatangani antara Arkora dan PLN juga merupakan perjanjian jangka panjang mulai dari 15 tahun, 25 tahun, hingga 30 tahun,” tutupnya.
Ikuti DailyFX.ID
